Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n
Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n
Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n
Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n
Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n
Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n
Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n
Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n
Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n
Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n
Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n
Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n
Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n
\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n
\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n
\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n
\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n
\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n
\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n
Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n
Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n
Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n
Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n
Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n
Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n
Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n
Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n
Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n
Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n \"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n \"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n \"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n \"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\" \"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n \"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n \"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n \"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n \"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n \"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n \"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n \"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n \"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n \"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n \"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n \"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n \"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari. Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\nHingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n