\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Krisis ekonomi itu pada akhirnya membikin pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi nilai mata uang rupiah. Pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Selain itu, pada 20 Maret 1950, kebijakan Gunting Syarifuddin diterapkan. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri keuangan saat itu, Syarifuddin Prawiranegara. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan memotong nilai pecahan uang menjadi setengahnya saja. Misal, jika kita memiliki uang Rp5, maka nilainya tinggal Rp2,5 saja setelah terkena kebijakan Gunting Syarifuddin.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak lama setelah pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda pada 1949, krisis ekonomi besar melanda Indonesia. Inflasi terjadi besar-besaran, utang negara setelah kesepakatan pada perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) membikin pemerintahan yang baru terbentuk kalang kabut. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Sumber pemasukan negara ketika itu hanya lewat sektor perkebunan saja.<\/p>\n\n\n\n

Krisis ekonomi itu pada akhirnya membikin pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi nilai mata uang rupiah. Pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Selain itu, pada 20 Maret 1950, kebijakan Gunting Syarifuddin diterapkan. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri keuangan saat itu, Syarifuddin Prawiranegara. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan memotong nilai pecahan uang menjadi setengahnya saja. Misal, jika kita memiliki uang Rp5, maka nilainya tinggal Rp2,5 saja setelah terkena kebijakan Gunting Syarifuddin.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Gus Dur, Cengkeh, dan SARA(P<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda pada 1949, krisis ekonomi besar melanda Indonesia. Inflasi terjadi besar-besaran, utang negara setelah kesepakatan pada perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) membikin pemerintahan yang baru terbentuk kalang kabut. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Sumber pemasukan negara ketika itu hanya lewat sektor perkebunan saja.<\/p>\n\n\n\n

Krisis ekonomi itu pada akhirnya membikin pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi nilai mata uang rupiah. Pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Selain itu, pada 20 Maret 1950, kebijakan Gunting Syarifuddin diterapkan. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri keuangan saat itu, Syarifuddin Prawiranegara. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan memotong nilai pecahan uang menjadi setengahnya saja. Misal, jika kita memiliki uang Rp5, maka nilainya tinggal Rp2,5 saja setelah terkena kebijakan Gunting Syarifuddin.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, saya menemukan hal menarik dalam buku Hikayat Kretek pada halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya. Sebuah fakta yang bagi saya cukup membanggakan dari industri kretek di negeri ini. Saya ceritakan ulang saja di sini hal menarik yang saya temukan sejak halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Gus Dur, Cengkeh, dan SARA(P<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda pada 1949, krisis ekonomi besar melanda Indonesia. Inflasi terjadi besar-besaran, utang negara setelah kesepakatan pada perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) membikin pemerintahan yang baru terbentuk kalang kabut. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Sumber pemasukan negara ketika itu hanya lewat sektor perkebunan saja.<\/p>\n\n\n\n

Krisis ekonomi itu pada akhirnya membikin pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi nilai mata uang rupiah. Pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Selain itu, pada 20 Maret 1950, kebijakan Gunting Syarifuddin diterapkan. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri keuangan saat itu, Syarifuddin Prawiranegara. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan memotong nilai pecahan uang menjadi setengahnya saja. Misal, jika kita memiliki uang Rp5, maka nilainya tinggal Rp2,5 saja setelah terkena kebijakan Gunting Syarifuddin.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hingga hari ini, masih banyak orang yang salah sangka mengenai definisi dari kretek. Kebanyakan orang menganggap kretek itu adalah rokok yang tanpa filter. Padahal itu tidak benar. Kretek adalah rokok khas Nusantara. Dinamakan kretek, karena bahan utamanya adalah tembakau dan cengkeh. Baik itu non-filter, ataupun berfilter, jika bahan pembuat utamanya adalah tembakau dan cengkeh, maka ia adalah kretek.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, saya menemukan hal menarik dalam buku Hikayat Kretek pada halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya. Sebuah fakta yang bagi saya cukup membanggakan dari industri kretek di negeri ini. Saya ceritakan ulang saja di sini hal menarik yang saya temukan sejak halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Gus Dur, Cengkeh, dan SARA(P<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda pada 1949, krisis ekonomi besar melanda Indonesia. Inflasi terjadi besar-besaran, utang negara setelah kesepakatan pada perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) membikin pemerintahan yang baru terbentuk kalang kabut. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Sumber pemasukan negara ketika itu hanya lewat sektor perkebunan saja.<\/p>\n\n\n\n

Krisis ekonomi itu pada akhirnya membikin pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi nilai mata uang rupiah. Pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Selain itu, pada 20 Maret 1950, kebijakan Gunting Syarifuddin diterapkan. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri keuangan saat itu, Syarifuddin Prawiranegara. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan memotong nilai pecahan uang menjadi setengahnya saja. Misal, jika kita memiliki uang Rp5, maka nilainya tinggal Rp2,5 saja setelah terkena kebijakan Gunting Syarifuddin.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya tidak membaca urut dari halaman awal. Usai membaca daftar isi, saya langsung menuju ke bab-bab yang saya rasa menarik untuk saya baca lebih dahulu. Tentang apa itu kretek, apa yang membedakan Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan sejak kapan pamor SKT meredup, digantikan oleh SKM yang menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Hingga hari ini, masih banyak orang yang salah sangka mengenai definisi dari kretek. Kebanyakan orang menganggap kretek itu adalah rokok yang tanpa filter. Padahal itu tidak benar. Kretek adalah rokok khas Nusantara. Dinamakan kretek, karena bahan utamanya adalah tembakau dan cengkeh. Baik itu non-filter, ataupun berfilter, jika bahan pembuat utamanya adalah tembakau dan cengkeh, maka ia adalah kretek.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, saya menemukan hal menarik dalam buku Hikayat Kretek pada halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya. Sebuah fakta yang bagi saya cukup membanggakan dari industri kretek di negeri ini. Saya ceritakan ulang saja di sini hal menarik yang saya temukan sejak halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Gus Dur, Cengkeh, dan SARA(P<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda pada 1949, krisis ekonomi besar melanda Indonesia. Inflasi terjadi besar-besaran, utang negara setelah kesepakatan pada perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) membikin pemerintahan yang baru terbentuk kalang kabut. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Sumber pemasukan negara ketika itu hanya lewat sektor perkebunan saja.<\/p>\n\n\n\n

Krisis ekonomi itu pada akhirnya membikin pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi nilai mata uang rupiah. Pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Selain itu, pada 20 Maret 1950, kebijakan Gunting Syarifuddin diterapkan. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri keuangan saat itu, Syarifuddin Prawiranegara. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan memotong nilai pecahan uang menjadi setengahnya saja. Misal, jika kita memiliki uang Rp5, maka nilainya tinggal Rp2,5 saja setelah terkena kebijakan Gunting Syarifuddin.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya tidak membaca urut dari halaman awal. Usai membaca daftar isi, saya langsung menuju ke bab-bab yang saya rasa menarik untuk saya baca lebih dahulu. Tentang apa itu kretek, apa yang membedakan Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan sejak kapan pamor SKT meredup, digantikan oleh SKM yang menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Hingga hari ini, masih banyak orang yang salah sangka mengenai definisi dari kretek. Kebanyakan orang menganggap kretek itu adalah rokok yang tanpa filter. Padahal itu tidak benar. Kretek adalah rokok khas Nusantara. Dinamakan kretek, karena bahan utamanya adalah tembakau dan cengkeh. Baik itu non-filter, ataupun berfilter, jika bahan pembuat utamanya adalah tembakau dan cengkeh, maka ia adalah kretek.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, saya menemukan hal menarik dalam buku Hikayat Kretek pada halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya. Sebuah fakta yang bagi saya cukup membanggakan dari industri kretek di negeri ini. Saya ceritakan ulang saja di sini hal menarik yang saya temukan sejak halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Gus Dur, Cengkeh, dan SARA(P<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda pada 1949, krisis ekonomi besar melanda Indonesia. Inflasi terjadi besar-besaran, utang negara setelah kesepakatan pada perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) membikin pemerintahan yang baru terbentuk kalang kabut. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Sumber pemasukan negara ketika itu hanya lewat sektor perkebunan saja.<\/p>\n\n\n\n

Krisis ekonomi itu pada akhirnya membikin pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi nilai mata uang rupiah. Pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Selain itu, pada 20 Maret 1950, kebijakan Gunting Syarifuddin diterapkan. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri keuangan saat itu, Syarifuddin Prawiranegara. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan memotong nilai pecahan uang menjadi setengahnya saja. Misal, jika kita memiliki uang Rp5, maka nilainya tinggal Rp2,5 saja setelah terkena kebijakan Gunting Syarifuddin.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buku yang saya ambil berjudul Hikayat Kretek karya Amen Budiman dan Onghokham. Buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) itu sebetulnya pernah saya baca sekira dua tahun lalu. Tentu saja kini saya sudah lupa sebagian besar isinya. Jadi saya pikir, tidak ada salahnya saya baca ulang buku berisi seluk-beluk sejarah kretek itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya tidak membaca urut dari halaman awal. Usai membaca daftar isi, saya langsung menuju ke bab-bab yang saya rasa menarik untuk saya baca lebih dahulu. Tentang apa itu kretek, apa yang membedakan Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan sejak kapan pamor SKT meredup, digantikan oleh SKM yang menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Hingga hari ini, masih banyak orang yang salah sangka mengenai definisi dari kretek. Kebanyakan orang menganggap kretek itu adalah rokok yang tanpa filter. Padahal itu tidak benar. Kretek adalah rokok khas Nusantara. Dinamakan kretek, karena bahan utamanya adalah tembakau dan cengkeh. Baik itu non-filter, ataupun berfilter, jika bahan pembuat utamanya adalah tembakau dan cengkeh, maka ia adalah kretek.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, saya menemukan hal menarik dalam buku Hikayat Kretek pada halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya. Sebuah fakta yang bagi saya cukup membanggakan dari industri kretek di negeri ini. Saya ceritakan ulang saja di sini hal menarik yang saya temukan sejak halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Gus Dur, Cengkeh, dan SARA(P<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda pada 1949, krisis ekonomi besar melanda Indonesia. Inflasi terjadi besar-besaran, utang negara setelah kesepakatan pada perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) membikin pemerintahan yang baru terbentuk kalang kabut. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Sumber pemasukan negara ketika itu hanya lewat sektor perkebunan saja.<\/p>\n\n\n\n

Krisis ekonomi itu pada akhirnya membikin pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi nilai mata uang rupiah. Pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Selain itu, pada 20 Maret 1950, kebijakan Gunting Syarifuddin diterapkan. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri keuangan saat itu, Syarifuddin Prawiranegara. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan memotong nilai pecahan uang menjadi setengahnya saja. Misal, jika kita memiliki uang Rp5, maka nilainya tinggal Rp2,5 saja setelah terkena kebijakan Gunting Syarifuddin.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika hujan reda dan istri saya sudah tertidur, saya beranjak ke perpustakaan pribadi milik kami. Merapikan buku-buku yang berserakan di beberapa tempat lantas mengembalikan ke rak buku agar kembali tertata rapi. Saya lantas melihat-lihat buku di rak, dan mengambil sebuah buku untuk saya baca sembari menunggu kantuk datang.<\/p>\n\n\n\n

Buku yang saya ambil berjudul Hikayat Kretek karya Amen Budiman dan Onghokham. Buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) itu sebetulnya pernah saya baca sekira dua tahun lalu. Tentu saja kini saya sudah lupa sebagian besar isinya. Jadi saya pikir, tidak ada salahnya saya baca ulang buku berisi seluk-beluk sejarah kretek itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya tidak membaca urut dari halaman awal. Usai membaca daftar isi, saya langsung menuju ke bab-bab yang saya rasa menarik untuk saya baca lebih dahulu. Tentang apa itu kretek, apa yang membedakan Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan sejak kapan pamor SKT meredup, digantikan oleh SKM yang menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Hingga hari ini, masih banyak orang yang salah sangka mengenai definisi dari kretek. Kebanyakan orang menganggap kretek itu adalah rokok yang tanpa filter. Padahal itu tidak benar. Kretek adalah rokok khas Nusantara. Dinamakan kretek, karena bahan utamanya adalah tembakau dan cengkeh. Baik itu non-filter, ataupun berfilter, jika bahan pembuat utamanya adalah tembakau dan cengkeh, maka ia adalah kretek.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, saya menemukan hal menarik dalam buku Hikayat Kretek pada halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya. Sebuah fakta yang bagi saya cukup membanggakan dari industri kretek di negeri ini. Saya ceritakan ulang saja di sini hal menarik yang saya temukan sejak halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Gus Dur, Cengkeh, dan SARA(P<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda pada 1949, krisis ekonomi besar melanda Indonesia. Inflasi terjadi besar-besaran, utang negara setelah kesepakatan pada perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) membikin pemerintahan yang baru terbentuk kalang kabut. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Sumber pemasukan negara ketika itu hanya lewat sektor perkebunan saja.<\/p>\n\n\n\n

Krisis ekonomi itu pada akhirnya membikin pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi nilai mata uang rupiah. Pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Selain itu, pada 20 Maret 1950, kebijakan Gunting Syarifuddin diterapkan. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri keuangan saat itu, Syarifuddin Prawiranegara. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan memotong nilai pecahan uang menjadi setengahnya saja. Misal, jika kita memiliki uang Rp5, maka nilainya tinggal Rp2,5 saja setelah terkena kebijakan Gunting Syarifuddin.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hujan yang mengguyur Yogya malam tadi membikin saya mesti membatalkan janji bertemu dengan beberapa orang di selatan Yogya. Saya memutuskan untuk tetap di rumah saja, menemani istri saya yang sedang hamil tua. Menyantap pisang goreng bikinan istri dan segelas teh hangat.<\/p>\n\n\n\n

Ketika hujan reda dan istri saya sudah tertidur, saya beranjak ke perpustakaan pribadi milik kami. Merapikan buku-buku yang berserakan di beberapa tempat lantas mengembalikan ke rak buku agar kembali tertata rapi. Saya lantas melihat-lihat buku di rak, dan mengambil sebuah buku untuk saya baca sembari menunggu kantuk datang.<\/p>\n\n\n\n

Buku yang saya ambil berjudul Hikayat Kretek karya Amen Budiman dan Onghokham. Buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) itu sebetulnya pernah saya baca sekira dua tahun lalu. Tentu saja kini saya sudah lupa sebagian besar isinya. Jadi saya pikir, tidak ada salahnya saya baca ulang buku berisi seluk-beluk sejarah kretek itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pembelaan Gus Dur pada Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saya tidak membaca urut dari halaman awal. Usai membaca daftar isi, saya langsung menuju ke bab-bab yang saya rasa menarik untuk saya baca lebih dahulu. Tentang apa itu kretek, apa yang membedakan Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan sejak kapan pamor SKT meredup, digantikan oleh SKM yang menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Hingga hari ini, masih banyak orang yang salah sangka mengenai definisi dari kretek. Kebanyakan orang menganggap kretek itu adalah rokok yang tanpa filter. Padahal itu tidak benar. Kretek adalah rokok khas Nusantara. Dinamakan kretek, karena bahan utamanya adalah tembakau dan cengkeh. Baik itu non-filter, ataupun berfilter, jika bahan pembuat utamanya adalah tembakau dan cengkeh, maka ia adalah kretek.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, saya menemukan hal menarik dalam buku Hikayat Kretek pada halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya. Sebuah fakta yang bagi saya cukup membanggakan dari industri kretek di negeri ini. Saya ceritakan ulang saja di sini hal menarik yang saya temukan sejak halaman 169 hingga beberapa halaman setelahnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Gus Dur, Cengkeh, dan SARA(P<\/a>)<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda pada 1949, krisis ekonomi besar melanda Indonesia. Inflasi terjadi besar-besaran, utang negara setelah kesepakatan pada perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) membikin pemerintahan yang baru terbentuk kalang kabut. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Sumber pemasukan negara ketika itu hanya lewat sektor perkebunan saja.<\/p>\n\n\n\n

Krisis ekonomi itu pada akhirnya membikin pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi nilai mata uang rupiah. Pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Selain itu, pada 20 Maret 1950, kebijakan Gunting Syarifuddin diterapkan. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri keuangan saat itu, Syarifuddin Prawiranegara. Gunting Syarifuddin adalah kebijakan memotong nilai pecahan uang menjadi setengahnya saja. Misal, jika kita memiliki uang Rp5, maka nilainya tinggal Rp2,5 saja setelah terkena kebijakan Gunting Syarifuddin.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih menyelamatkan perekonomian nasional, kebijakan yang diambil pemerintah ketika itu malah membikin kondisi perekonomian kian memburuk. Peningkatan jumlah penduduk dan kondisi aman pasca perang juga menambah beban pemerintah dengan banyaknya pengangguran.<\/p>\n\n\n\n

Dalam kondisi semacam itu, ada anomali pada industri kretek nasional. Krisis ekonomi seakan tidak mempengaruhi industri kretek ketika itu. Ini bisa dilihat dari pemasukan cukai rokok yang selalu meningkat sejak tahun 1951 hingga 1962. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1951, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar Rp46.920.000. Terus meningkat setiap tahun hingga pada 1962 pemasukan negara lewat cukai mencapai Rp920.050.000. Naik hingga 2000 persen. Sebuah angka yang menakjubkan.<\/p>\n\n\n\n

Selain pendapatan cukai yang terus meningkat tiap tahunnya di tengah krisis berkepanjangan, kemunculan pabrik-pabrik rokok kretek baru juga terjadi pada 1950 hingga 1962, terutama pabrik rokok kretek di luar pulau Jawa. Total ada 32 pabrik rokok baru di luar Jawa yang berdiri pada periode itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Tiga Jenis Tembakau Unggulan dari Pulau Madura<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anomali semacam ini juga terjadi ketika krisis besar kembali melanda Indonesia pada periode 90an. Industri kretek menjadi penyelamat keuangan negara di tengah badai besar ekonomi yang menghantam negeri. <\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, catatan-catatan keberhasilan industri kretek itu sepertinya tidak begitu menarik bagi pemerintah negeri ini kini. Buktinya, mereka malah menaikkan persentase cukai rokok dengan angka yang tidak masuk akal, mencapai 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Bukannya merawat industri kretek yang terbukti berperan besar memberi pemasukan keuangan bagi negara bahkan di saat krisis ekonomi melanda sekalipun, pemerintah kini seakan malah hendak menghancurkan sendiri industri kretek itu dengan menaikkan cukai dengan semena-mena. Tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Industri Kretek di Tengah Krisis Ekonomi 1950","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-kretek-di-tengah-krisis-ekonomi-1950","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-14 09:06:15","post_modified_gmt":"2019-11-14 02:06:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6229","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6223,"post_author":"919","post_date":"2019-11-12 08:48:46","post_date_gmt":"2019-11-12 01:48:46","post_content":"\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6202,"post_author":"877","post_date":"2019-11-04 08:47:52","post_date_gmt":"2019-11-04 01:47:52","post_content":"\n

Seorang profesor Antropologi di University of Montana, GG Weix, menuliskan tentang visualitas Museum Kretek di Kudus, dan menyebutnya sebagai bagian penting dari riwayat, tengara, dan fasilitas kota. Berbeda dengan dua museum lain yang ada di Jawa Tengah, Museum Gula di Klaten , dan Museum Kereta Api di Ambarawa, yang notabene sumbangan penting colonial. Kretek dan Museum Kretek sebagai museum pengenangnya adalah temuan dan ciptaan bangsa Indonesia. Pendirian museum berarti suatu upaya untuk mengabadikan ingatan sekaligus merawatnya dari bahaya lupa ingatan. <\/p>\n\n\n\n

Dalam museum kretek kudus sejarah telah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah lahir menjadi budaya kehidupan di Nusantara. Dalam bahasa Hanusz; kretek is a ubiquitous feature of daily life in Indonesia and can be found in the most diverse circumstances\u2014from religius ceremonies to work of art and literature. Budaya disini tak hanya menunjuk praktek kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga identitas, suatu ciri pembeda dan marka pemisah dengan yang lain. <\/p>\n\n\n\n

Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n

Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n

Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n

Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n

Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n

Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n

Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};