\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n

Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n

Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n

Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n

Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n

Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n

Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n

Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n

Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n

Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n

Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n

Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n

Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n

Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n

Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n

Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n

Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n

Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n

Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5841,"post_author":"877","post_date":"2019-07-05 12:42:06","post_date_gmt":"2019-07-05 05:42:06","post_content":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_title":"Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"protes-petani-tembakau-temanggung-ke-kemkominfo","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:04:25","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:04:25","post_content_filtered":"\r\n

Bersama petani tembakau lainnya dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), petani tembakau Temanggung memprotes ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) di Jakarta, atas isu akan ada pemblokiran iklan rokok di internet yang dianggap akan berdampak ke petani tembakau di seluruh Indonesia.<\/p>\r\n

Protes di atas terjadi pada hari selasa tanggal 2 Juli 2019, di kantor Kemkominfo dan ditemui bagian Dirjen Aplikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan. Sekiranya protes petani tembakau yang di dampingi KNPK, telah dirilis dan diunggah kurang lebih 11 situs, yaitu:<\/p>\r\n

https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/07\/02\/200500423\/kemkominfo-tanggapi-protes-larangan-iklan-rokok-knpk
https:\/\/m.merdeka.com\/teknologi\/knpk-temui-kemkominfo-bahas-pemblokiran-iklan-rokok-di-internet.html
https:\/\/www.viva.co.id\/digital\/digilife\/1162034-blokir-iklan-rokok-di-internet-tindakan-tak-bijaksana
https:\/\/www.wowkeren.com\/berita\/tampil\/00262777.html
https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/937884\/knpk-dukung-kominfo-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-peraturan
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/amp\/2019\/07\/02\/larangan-iklan-rokok-di-internet-rugikan-petani-tembakau-knpk-minta-penjelasan-kemenkominfo
https:\/\/jakarta.tribunnews.com\/2019\/07\/02\/iklan-rokok-dilarang-di-internet-petani-tembakau-terancam-merugi
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425844\/technology\/blokir-iklan-rokok-di-internet-kominfo-dinilai-gegabah
https:\/\/www.alinea.id\/nasional\/pemblokiran-iklan-rokok-dinilai-rugikan-petani-tembakau-dan-media-b1Xjh9lmL
https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/425901\/technology\/kominfo-pemblokiran-iklan-rokok-mengacu-pp
https:\/\/www.google.com\/amp\/amp.kontan.co.id\/news\/kominfo-tegaskan-hanya-blokir-iklan-rokok-yang-tak-sesuai-aturan<\/p>\r\n

Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/h3>\r\n

\"Pada intinya protes petani tembakau<\/a> terhadap Kemkominfo, atas akan diberlakukannya pemblokiran iklan rokok di internet yang nantinya disinyalir akan sangat berdampak negatif bagi petani tembakau di Indonesia umumnya, khususnya bagi petani tembakau Temanggung,\" kata Sumedi seorang petani asal Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.<\/p>\r\n

Sumedi, salah satu petani tembakau yang melek akan teknologi informasi. Melalui handphone<\/em> (HP) nya, ia mendapatkan informasi bahwa iklan rokok di internet akan diblokir oleh Kominfo atas surat permintaan Kementrian Kesehatan, dan kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan crawling ditemukan ada 114 kanal facebook, instragram dan YouTube yang memuat iklan rokok. Apa yang telah dilakukan Kominfo, menurutnya, tidak adil, karena hanya berdasar dari permintaan Kemenkes. Sedangkan dasar Kemenkes tidak merujuk aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Seperti, tidak ada kata pemblokiran, hanya saja ada aturan.<\/p>\r\n

Melihat isu pemblokiran yang terus bergulir, Medi panggilan akrabnya, merasa khawatir akan berdampak terhadap pembelian tembakau ke petani. Apalagi bulan Juli dan Agustus mendekati masa panen tembakau. Karena, dipastikan jika penjualan rokok kretek menurun, pabrikan rokok kretek akan turun kuota pembelian tembakaunya. Hanya keberadaan pabrikan rokok kreteklah yang selama ini berani membeli tembakau petani dengan harga tinggi, lainnya tidak ada sama sekali.<\/p>\r\n

Hal ini, ada kaitannya dengan pemblokiran iklan rokok, menurut Sumedi. Kalau iklan rokok di internet diblokir yang sangat merasakan kerugiannya adalah petani tembakau. Alasannya: pertama; karena petani modalnya kecil beda pabrikan yang punya modal besar bisa beralih ke perdagangan lain, seperti kopi dan lain sebagainya. Kedua; lahan dan tanah rata-rata yang dimiliki petani tembakau di Temanggung tidaklah seproduktif seperti lahan pertanian atau perkebunan di daerah lain. Hanya dengan tanaman tembakaulah petani di Temanggung rata-rata mendapatkan nilai ekonomi tinggi dibanding dengan menanam tanaman lain.<\/p>\r\n

Tanaman Tembakau Adalah Warisan Nenek Moyang<\/h3>\r\n

Sebenarnya, petani tembakau di Temanggung juga menanam tanaman lain di bulan-bulan sela setelah memanen tembakau. Ada cabe, jahe, kacang, padi dan lain sebagainya. Namun, hasilnya hanya untuk kebutuhan kecil, sedangkan kebutuhan besar, seperti menyekolahkan anak, bangun rumah, punya khajat nikahan atau sejenisnya, petani di Temanggung mengandalkan tanaman tembakau, dan mungkin keadaan ini, sama dengan di daerah pertanian tembakau lainnya. Rata-rata tanah yang ditanami tanaman tembakau di bumi pertiwi ini hanya bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih dengan tanaman tembakau. Inilah bagi petani tembakau menamai sebagai tanah kearifan lokal. Artinya, para petani merasa bersyukur tanahnya masih bisa ditanami dan menghasilkan, walaupun hanya tembakau. Kondisi tanah kurang air atau tidak bisa di aliri air, bahkan tandus. Ditanami tanaman apapun pastinya hasilnya jelek dan nilainya rendah, tidak seperti tanaman tembakau, pengakuan Medi.<\/p>\r\n

Para petani tembakau di Temanggung sadar akan keadaan tanah yang dimilikinya, makanya mereka tidak mengeluh ataupun iri dengan daerah lain, yang tanahnya cocok untuk semua jenis tanaman dan menghasilkan. Mereka tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, termasuk keberadaan tembakau. Rasa syukurnya, selain melakukan do\u2019a dan ritual, juga akan selalu menanam, merawat dan menjaga tradisi tanaman tembakau. Walaupun keberadaan tanaman tembakau sampai detik ini di Indonesia, selalu dimusuhi oleh orang-orang anti tembakau dan anti rokok, dengan dalih kesehatan yang dipromotori oleh rezim Kementerian Kesehatan.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak mendengar, bahwa tanaman tembakau warisan nenek moyang untuk pengobatan. Andai saja tanaman tembakau tidak bermanfaat bagi manusia, tentunya nenek moyang kita tidak akan mewariskan pada kita, dan tidak akan dibudidayakan. Apakah mereka tidak melihat, kalau jenis tanah untuk tembakau beda dengan jenis tanah lainnya. Sifat tanahnya yang sulit untuk tanaman selain tembakau.<\/p>\r\n

Apakah mereka tidak membaca, nilai ekonomi tembakau lebih besar dari tanaman lainnya, di daerah pertanian tembakau. dan hasil dari tembakau menyumbang pemasukan keuangan Negara, bahkan menyumbang defisit dengan membayar tunggakan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Keadaan ini, petani tembakau sangat iklas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Akan tetapi, hasil dari tembakau berupa pungutan pajak, jika dipergunakan untuk memerangi pertembakauan, sungguh na\u00eff dan tidak berprikemanusiaan. Jika demikian adanya, melemahkan pengamalan Pancasila sila ke dua berbunyi \u201cKemanusiaan yang adil dan beradab\u201d. Yang kemudian, akan melemahkan ideologi dasar Negara, yang merupakan rumusan dan pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\r\n

Harapan Petani Tembakau Temanggung<\/h3>\r\n

Harapan Pak Sumedi, agar pemerintah memperhatikan keberadaan petani tembakau, jangan hanya mau duitnya, tapi keberlanjutan pertembakaun di Indonesia dari hulu hingga hilir diutamakan. Bagi masyarakat luas baik yang pro maupun yang kontra agar melek akan kondisi para petani tembakau yang nyatanya demikian. Kita ini hidup bersama, berdampingan, di bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Nusantara, harusnya saling menghormati satu sama lain, yang pro rokok wajib menghormati yang tidak merokok di tempat-tempat yang telah ditentukan, sebaliknya yang tidak merokok harusnya menghormati yang merokok. Umpama, perokok hanya dikasih ruang atau dipersilahkan ke ruangan merokok yang layak, pastilah perokok<\/a> sangat senang. Tidak malah terjadi hujat, menghujat, sehingga terjadi permusuhan. Dan anehnya lagi, hujatan dari anti rokok sangat dipengaruhi kepentingan asing dan kepentingan politik dagang luar negeri. Jadi sebaiknya, bagi orang Indonesia, marilah kita bersama membangun Bangsa dan Negara, tidak ada pro rokok tidak ada kontra rokok, saling menghormati satu sama lain. Karena sesungguhnya sudah selesai perseteruan antara 01 dan 02, salam damai semua.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5841","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5838,"post_author":"877","post_date":"2019-07-01 11:09:01","post_date_gmt":"2019-07-01 04:09:01","post_content":"\n

Gaya hidup harus diperhatikan, untuk keseimbangan tubuh manusia yang sifatnya makin tambah usia makin rentan penyakit. Namun tidaklah baik jika ada pelarangan makan atau minum bagi manusia hidup. Karena manusia hidup butuh makan dan minuman. Dalam kitab suci umat Islam pada surah al-\u2018Araf ayat 31, berbunyi \u201cwakulu wasrobu wala tusrifu\u201d, artinya, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Mungkin ayat ini, dimaksud dokter Rita (nama samaran) ahli penyakit dalam di Kudus. Ia sering memberikan saran pada pasiennya agar mengikuti pola hidup seimbang, jangan takut makan makanan dan minum minuman asal tidak berlebihan dan tidak kebanyakan. Ia salah satu dokter yang murah senyum, sopan dan komunikatif dengan pasiennya, yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Dokter Rita bisa dijumpai di dua rumah sakit besar di Kudus, ia tidak membuka prkatek umum diluar rumah sakit, Ia mengabdikan diri lewat rumah sakit. Selain hari Minggu, ia pergi pagi sekali, pulang malam, untuk kunjungan mengunjungi pasiennya di Rumah sakit. Selain visit, ia mendapatkan tugas memeriksa pasien rawat jalan. Ia salah satu dari kebanyakan dokter, selain memang ramah pada pasien, ia tidak pernah menakut-nakuti pasiennya, dan memberikan resep pada pasiennya seminim mungkin. Ia pun sadar, para dokter butuh obat untuk resep pasien, tapi bukan obyek atau target sales farmasi. Yang menjanjikan hadiah dan fee besar, selama bisa menjualkan obat produknya. Yang tak kalah menarik dokter rita ini, selalu menyemangati pasiennya, mudah dan enak di ajak ngobrol untuk konsultasi. <\/p>\n\n\n\n

Bagi pasien bisa komunikasi dan konsultasi, bertanya-tanya persolan penyakit yang dideritanya adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Walaupun, sebenarnya semua itu adalah hak pasien dan kewajiban dokter. Akan tetapi, bisa komunikasi dan konsultasi dengan jelas bersama dokter tidaklah mudah, karena begitu banyaknya pasien yang ditanganinya. Namun bu Rita, tidak demikian, ia tetap juga memberikan waktu pada pasien dan keluarganya untuk saling komunikasi. Karena menurutnya, membangun komunikasi dengan pasien itu salah satu model dorongan agar pasien semangat untuk sehat, dan keluarganya juga berpartisipasi bisa menjaga si pasien dengan baik, inilah pengakuan bu Rita.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut cerita bu Rita, ada beberapa pertanyaan yang umum saat ketemu dengan pasiennya, dok saya\/saudaraku ini sakit apa?, gerak atau kelakuan apa yang tidak boleh?, apa yang harus dilakukan?, dan makanan atau minuman apa yang tidak boleh?. Begitupun, aku saat ketemu dengannya. Salah satu jawaban yang sangat paling aku suka, adalah dari pertanyaan terakhih tentang makanan atau minuman apa yang harus aku tinggal, atau minuman dan makanan apa yang harus aku konsumsi?. Ia menjawab dengan tegas lugas dan cerdas. Tidak ada larangan makan dan minuman yang dilarang, semua boleh di konsumsi selama batas kewajaran, tidak berlebihan. Makan nasi terlalu banyak, maka berakibat tidak baik bagi tubuh. Ukuran tidak boleh kebanyakan sebetulnya relative, yang sangat mengerti adalah orangnya sendiri. Orang hidup itu harus seimbang, olah raga, makan dan minum cukup, jangan berlebihan, disesuaikan kapasitas tubuh. Olah raga terlalu sering tidak baik, bahkan makan dan minum terlalu banyak tidak sesui kapasitas tubuh juga tidak baik bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Cerita lain dari orang yang selalu mendampingi Bu Rita saat visit bernama Neni (nama samara), kalau bu Rita itu punya seorang nenek yang umurnya sudah mencapai kira-kira 90an tahun dan masih tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun memang sudah berkurang. Suatu ketika, musim durian tiba, neneknya minta dibelikan durian, buah favorit saat masih muda. Bu Rita lalu membelikannya, kemudian dimakannya buah durian tersebut oleh neneknya. Namun karena usia dan kondisi neneknya yang sudah melebihi rerata umur manusia, ia pesan pada neneknya, agar tidak banyak-banyak, neneknya mengerti apa yang dipesan cucunya yang tersayang, kemudisn neneknya memutuskan hanya memakan dua biji buah durian. Sejatinya mungkin neneknya kuasa memakan semuanya, tetapi neneknya memilih menghentikan niatan itu. Neneknya paham saat ini sudah tidak waktunya untuk makan banyak durian, akan berakibat tidak baik bagi tubuhnya. Begitu pula pola makan, pola istirahat, pola berolahraga juga demikian, tidak seperti saat masih muda. <\/p>\n\n\n\n

Ceritanya neni lagi, bahwa suami Bu Rita itu perokok, dan tidak sekadar perokok yang ikut-ikutan, termasuk perokok aktif. Ia pun tidak melarangnya, hanya saja, harus dibatasi disesuaikan usia, jangan sampai melebihi kapasitas kekuatan tubuh. Daya tubuh, dengan bertambahnya usia tetap akan menurun. Walaupun seumpama makan-makanan dan minum minuman yang bergizi tetap akan menurun, sesuai berjalannya usia. Semakin lama tubuh manusia akan semakin berkerut, mengecil, dan itu tidak bisa dihindari atau diremajakan. Umur manusia sangat terbatas, baik yang makan makanan bergizi, baik yang tidak bergizi, pengkonsumsi rokok ataupun yang tidak merokok, semuanya akan menemui ajalnya. Tidak bisa manusia itu kekal abadi, pasti akan mati. <\/p>\n\n\n\n

Hal yang paling baik bagi manusia adalah hidup seimbang, jangan terlalu banyak makan, minum, olah raga, merokok dan lain sebagainya. Jadilah manusia yang bisa mengukur kapasitasnya sendiri disesuaikan bertambahnya umur. Janganlah menjadi orang yang serakah, makan, minum, merokok berlebihan, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh, yang hakekatnya makin lama, makin lemah.
<\/p>\n","post_title":"Konsumsi Apapun Secukupnya, Jangan Berlebihan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konsumsi-apapun-secukupnya-jangan-berlebihan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-01 11:09:07","post_modified_gmt":"2019-07-01 04:09:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5838","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5829,"post_author":"878","post_date":"2019-06-28 09:52:18","post_date_gmt":"2019-06-28 02:52:18","post_content":"\n

Rokok, terutama rokok kretek, memberi inspirasi bagi banyak orang. Baik itu inspirasi ketika menikmati kretek atau usai menikmati rokok kretek, juga inspirasi dari produk rokok kreteknya. Lebih jauh dari itu, seluk-beluk dunia kretek mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, proses produksi kretek, transaksi dagang kretek, dan segala hal yang terkait dengan dunia perkretekan menginspirasi begitu banyak orang untuk berkarya dalam rupa-rupa bentuk karya.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat kretek sendiri, rupa-rupa pengalaman bersama kretek juga banyak datangkan kisah menarik. Yang paling kesohor tentu saja kisah K.H Agus Salim dengan diplomasi kreteknya yang membikin suasana di salah satu ruang istana kerajaan Inggris yang sebelumnya begitu kaku dan formil menjadi cair karenanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya K.H Agus Salim yang memiliki kisah kretek dengan luar negeri, ada banyak lainnya, salah satunya, Mahbub Djunaidi, tokoh Betawi, tokoh NU, wartawan jempolan, kolumnis produktif, dan banyak hal keren lainnya terkumpul dalam satu orang ini. Kekhasannya dalam menghasilkan karya tulis, mampu membikin tulisan bertema berat dalam kemasan humor dan enak dibaca, membikin hampir semua penulis Indonesia mengagumi tulisannya. Tulisan Mahbub Djunaidi terkait kretek, yang tayang di Koran Kompas pada 29 Maret 1987, lebih 32 tahun lalu, juga dikemas dalam suasana humor dan ringan dibaca namun sarat kritik yang menohok. <\/p>\n\n\n\n

Tulisan Mahbub Djunaidi tentang kretek yang diberi judul \u2018Kretek\u2019 ini juga relevan dengan kondisi saat ini, bagaimana asing begitu mendikte negara ini dalam hal menyikapi rokok kretek. Lewat kaum anti-rokok pihak asing hendak menyingkirkan kretek. Secara halus, begitu halus, Mahbub Djunaidi mengkritik asing itu. Saya sadur seluruhnya saja tulisan Mahbub Djunaidi 32 tahun lalu itu di sini.<\/p>\n\n\n\n

Kretek<\/h2>\n\n\n\n

Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n

Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n

Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n

Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n

Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n

Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Kompas, 29 Maret 1987
<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n

Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n

Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n

Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n

Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n

Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n

Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah.  Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok  dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n

Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n

Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n

Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n

Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji  dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n

Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n

Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n

Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok.  Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n

Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n

Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};