Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n
Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n
Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n
Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n
Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n
Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n
Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n
Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n
Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n
Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n
Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n
Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n
Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n
Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n
Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n
Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik.
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n
Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n
Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n
Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n
Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n
Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n
Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n
Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n
Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n
Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n Baru-baru ini Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek menerbitkan surat edaran nomor TM.04.01\/Menkes\/314\/2019<\/em> tentang pemblokiran iklan rokok di internet. Surat tersebut mengamanatkan Kemenkominfo untuk memblokir iklan rokok di internet. Efek dari dikeluarkannya kebijakan baru ini, hingga saat ini setidaknya 114 situsweb diblokir. Dan bukan tidak mungkin ke depannya semakin banyak lagi pemblokiran terjadi dengan dalih iklan rokok. Padahal persoalan iklan, industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir telah mematuhi semua regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n Alasan dikeluarkannya peraturan terbaru itu adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja yang merokok karena terpapar iklan rokok di internet. Karenanya, untuk menghindari kejadian ini semakin berkembang besar, peraturan baru dikeluarkan oleh menteri kesehatan. Lantas, apakah benar hanya sebatas itu saja alasannya?<\/p>\n\n\n\n Tentu saja tidak. Ada kepentingan asing yang bermain di sini untuk terus menggembosi produk kretek yang setiap tahunnya memberikan sumbangsih besar kepada negara lewat cukai. Setidaknya, per tahun, negara menerima pemasukan bersih sebesar Rp150 triliun tanpa harus mengeluarkan modal apa-apa dan tanpa harus mengeluarkan energi besar. Mengenai kepentingan asing yang bermain di sini, berita lengkap bisa Anda baca di sini: https:\/\/bolehmerokok.com\/2019\/06\/ada-campur-tangan-bloomberg-dalam-surat-edaran-menkes-terkait-pemblokiran-iklan-rokok\/<\/a><\/p>\n\n\n\n Dukungan kuat atas peraturan baru ini disampaikan salah satunya oleh Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI). Menurut Arjoso, pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media massa termasuk media online.<\/p>\n\n\n\n Siapa sebenarnya TCSC, IAKMI ini? Lembaga ini sejak Agustus 2017 menerima proyek dari Bloomberg initiative. Proyek yang mereka terima akan berakhir pada Juli 2019. Sebagaimana dimuat pada laman tobaccocontrolgrants.org, proyek itu bertujuan untuk mendorong pemerintah suatu negara dalam amandemen peraturan untuk meningkatkan ukuran Peringatan Kesehatan Grafis (GHW) menjadi 75% pada paket tembakau, mendorong parlemen untuk mengubah undang-undang pajak untuk menaikkan pajak tembakau, dan iklan tembakau, promosi dan peraturan terkait sponsor untuk larangan komprehensif, dan memobilisasi orang untuk mendorong presiden agar mengaksesi WHO FCTC. Sudah jelas sekali kepentingan asing bermain di sini. Lebih lagi tujuan jangka panjang mereka adalah aksesi FCTC yang jelas-jelas hendak membunuh rokok kretek dan membiarkan rokok lain di luar rokok kretek tetap bisa beredar di pasaran.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, dengan alasan rempah-rempah, kita dijajah secara terang-terangan. Negara-negara dari utara berbondong-bondong mendatangi negeri ini untuk menguasai komoditas yang menjadi primadona dunia. Sebelum menjajah negeri ini, mereka negara-negara dari utara itu bahkan saling bertempur dan berperang sesama mereka untuk memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda saling adu kekuatan untuk bisa memonopoli hasil rempah-rempah Nusantara. Pada akhirnya, sejarah mencatat Belandalah yang berhasil menjadi pemenang, lantas menjajah Nusantara dalam jangka waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n Kini, setelah lebih 70 tahun negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, nyatanya bentuk-bentuk penjajahan model baru masih juga terjadi. Kretek kita, rempah-rempah kita, komoditas andalan kita, masih terus berusaha untuk dijajah dengan dalih kesehatan dan segala macam tetek bengek lainnya. Berbagai macam upaya keras setidaknya selama dua dekade terakhir terus dilakukan untuk menggembosi Industri Hasil Tembakau Indonesia. Upaya penggembosan ini tentu saja akan berimbas pada banyak hal. Bukan semata tersingkirnya produk kretek Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu. Para petani tembakau kehilangan mata pencahariannya. Para petani cengkeh dijatuhkan hingga rudin. Buruh-buruh tani yang bekerja di dua sektor pertanian itu kehilangan sumber utama penghidupan mereka. Belum lagi para pekerja di pabrik rokok, penjual-penjual rokok mulai dari penjual skala besar hingga pedagang asongan. Semuanya akan kena imbas yang bisa membikin hidup dan kehidupan mereka hancur berantakan.<\/p>\n\n\n\n Mereka para anti-rokok yang digerakkan dana dan kepentingan asing yang hendak menjajah kedaulatan industri kretek kita, berdalih kesehatan dan segala macam turunannya untuk mengampanyekan keburukan tembakau, bahaya rokok\u2014bahkan hingga mengeluarkan peraturan tak masuk akal dan terkadang memproduksi berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya. Padahal sejatinya, mereka hendak menyingkirkan kretek produk unggulan negeri ini karena produk rokok mereka kalah saing begitu jauh dengan produk kretek kita. Pangsa pasar nikotin di negeri ini yang begitu besar jelas sangat menggiurkan mereka. Sayangnya, pangsa pasar itu dikuasai industri-industri dalam negeri mulai yang berskala besar hingga industri rumah tangga dengan rokok kretek sebagai produk unggulannya. Inilah alasan utama mengapa kampanye anti-rokok di negeri ini begitu masif dan berdana sangat besar.<\/p>\n\n\n\n Jika dulu penjajah datang langsung ke negeri ini untuk menguasai negeri ini. Memobilisasi pasukan dari tanah leluhurnya ke Nusantara dengan armada-armada perang mengarungi lautan, membawa berbagai macam senjata mulai dari bedil hingga meriam. Membikin penduduk Nusantara menderita dengan tindak semena-mena mereka demi menguasai sumber daya alam Nusantara. Kini mereka menjajah menggunakan tangan-tangan kotor anak negeri sendiri. Mereka masuk dan mempengaruhi siapa saja yang bisa dipengaruhi. Individu, ormas-ormas, LSM-LSM, anggota dewan, hingga pejabat negara dan departemen-departemen kementerian di negeri ini. Lewat tangan-tangan kotor anak negeri, mereka berusaha menghancurkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau yang telah terbukti mampu menjadi industri yang mandiri dan berdikari, bisa berjaya dan mampu bertahan serta menyumbangkan pemasukan besar bagi pemerintah meskipun negeri ini bertubi-tubi dilanda krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n Tidak bisa tidak, semua itu mesti dilawan, harus dilawan. Mari bersama kami berjuang untuk terus mempertahankan rokok kretek tetap berjaya di negeri ini. Tabik. Leak nama panggilan, lengkapnya Budi Sulistyo asal daerah\nJebres Surakarta alias Solo Jawa Tengah. Gus Baha\u2019, nama aslinya Bahauddin asal\ndari Kragan Narukan Kabupaten Rembang Jawa tengah. Mereka berdua sama tapi beda. Sama-sama pernah\nbicara rokok, tapi beda status sosialnya, Leak seorang sosiawan, sedang Gus\nBaha\u2019 seorang Ulama\u2019. Sama-sama pernah bicara rokok dikaitkan dengan amaliyah\nagama, namun beda obyek amaliyahnya. Leak mencoba memposisikan rokok dan berdo\u2019a, sedang Gus Baha\u2019 menantang\nbermain logika posisi rokok dalam ibadah. Sekilas bahasan dua orang ini\nberbeda, akan tetapi substansinya sama, meposisikan rokok dalam ritual. <\/p>\n\n\n\n Leak saat manggung acara diskusi budaya pada forum Jagong\nKamulyan di Kudus, terselip cerita tentang rokok dan do\u2019a. Pengakuan Leak,\ncerita rokok dan do\u2019a diambil dari hasil membaca portal \u201cKatolik garis lucu\u201d.\nYaitu satu portal memuat cerita-cerita dan kejadian-kejadian lucu di umat\nKatolik. Portal ini, seperti halnya portal \u201cNU garis lucu\u201d. Leak salah satu\npembaca setia kedua portal tersebut. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan, salah satu rutinitas forum lintas agama di\nKudus. Jagong itu ngobrol, kamulyan dari kata mulia. Jadi dalam acara jagong\nkamulyan forum lintas agama, bahasan utamanya terkait keseharian yang dilakukan\nmanusia, dari sudut pandang agama. Tujuan utamanya bukan perdebatan atau klaim\nkebenaran, akan tetapi lebih pada saling memberikan informasi, kebersamaan dan\nkerukunan antar umat beragama. Salah satu narasumber yang didatangkan dalam\nacara jagong kamulyan, salah satunya Leak. <\/p>\n\n\n\n Jagong kamulyan kali ini dikemas dalam satu rangkaian acara\nsunatan atau khitan, sehingga bahasannya manfaat khitan bagi anak laki-laki.\nDengan tema besarnya, \u201cNgaji, Ngopi, Ngabdi\u201d. Selain Leak, nara sumbernya ada\nRomo, Akademisi dan Ustad. Romo menjelaskan fungsi khitan dalam agamanya\nsebagai petanda memasuki masa remaja dan penyempurnaan diri. Kurang lebih\nseperti itu, pemahaman saya saat mendengarkan penjelasan Romo. <\/p>\n\n\n\n Dilanjutkan akademisi, mempertanyakan asal fungsi dan tujuan\nkhitan selain penjelasan romo, siapapun boleh menjawab termasuk iliran leak.\nSelain itu, mempertanyakan urutan tema \u201cNgaji dulu, atau Ngopi dulu atau Ngabdi\ndulu, atau bisa di bolak balik?.<\/p>\n\n\n\n Giliran leak menjawab menjelaskan kalau khitan dalam Islam\nitu punya sejarah panjang, dan berguna untuk membersihkan dari kotoran (saat\nitu leak bilang gudal) yang berada di lipatan-lipatan kulit pucuk alat kelamin.\nFungsi lain, khitan sebagai pengabdian diri dan seksualitas. Tidak kalah\npenting bahasa khitan ada makna sosial didalamnya, contoh kalau ada orang\nlaki-laki jelek tapi istrinya cantik, orang-orang akan bilang khitannya dimana\nkok beruntung?, artinya yang mengkhitan bawa keberuntungan. Kalau ada orang\nyang nakal, orang-orang akan bilang, tak sunati neh, aku khitan lagi, artinya\norang yang nakal itu agar kapok, ya di sunat lagi. <\/p>\n\n\n\n Untuk, menjawab pertanyaan akademisi yang kedua, mengenai\nurutan dalam tema besar, Leak memilih jawab fleksibel tergantung orangnya\nmasing-masing. Bisa ngopi dulu, baru ngaji, baru ngabdi, bisa ngabdi dulu, baru\nngopi, baru ngaji dan seterusnya namun\npunya makna berbeda saat yang mana dulu didahulukan. Kemudian Leak,\nmenceritakan saat Romo ditanya jamaatnya, tentang merokok dan berdo\u2019a. <\/p>\n\n\n\n Cerita Leak sebagai berikut: ada salah satu jamaat bertanya pada\nRomo seperti ini; \u201cRomo saya ini perokok, berdo\u2019a sambil merokok boleh tidak?\u201d.\nJawab Romo, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat ngomong lagi. \u201csaya ini perokok berat romo\u201d.\nRomo menjawab lagi, \u201ctidak boleh\u201d. Jamaat tanya lagi, \u201cyang boleh gimana\nromo?\u201d. Romo menjawab,\u201d merokok sambil berdoa\u201d. \n<\/p>\n\n\n\n Ketika berdo\u2019a kemudian merokok, itu orang tidak punya etika\nsama Tuhannya. Sudah minta-minta posisi gaya. Kalau saat merokok, sambil\nberdo\u2019a boleh-boleh saja, malah kalau bisa begitu, tambahan penjelasan Leak.\nOrang yang sedang asyik menikmati rokok, akan lebih baik jika ingat Tuhannya,\ndan boleh sambil meminta-minta pada Tuhannya (berdo\u2019a), sekalipun dalam ruang\nimajinasi dan khayalan.<\/p>\n\n\n\n Masalah do\u2019a dan merokok sekilas bahasan yang sangat\nsederhana. Dibalik itu, melihat jawaban Romo dan penjelasan Leak, maknanya\nmendalam. Dalam keadaan ibadah, dilarang merokok, karena ini berhubungan dengan\nakhlak manusia terhadap Tuhan (pencipta). Sebaliknya, dalam aktifitas menikmati\nrokok, jangan sampai lupa Tuhan (pencipta). Ini salah satu ibadah tersendiri\ndengan menggunakan media rokok. Jadi,\nada dua hal yang berbeda, ketika memaknai berdo\u2019a sambil merokok dan merokok\nsambil berdo\u2019a.<\/p>\n\n\n\n Orang yang berdo\u2019a sambil merokok, tergolong orang yang\nsangat sombong pada Tuhannya. Orang yang merokok sambil berdo\u2019a tergolong orang\nta\u2019at pada agama dan ta\u2019at pada Tuhannya, dan mungkin bisa menjadi salah satu\njalan orang tersebut menjadi kekasih Tuhan. \n <\/p>\n\n\n\n Cerita Gus Baha\u2019 saat berdebat dengan temannya saat di\npondok, temannya bilang kalau orang yang melakukan ihram tidak boleh memakai\nminyak wangi. Rokok dikategorikan minyak wangi, jadi tidak boleh merokok saat\nIhram. Kemudian, Gus Baha\u2019 bertanya sambil menantang temannya, dengan berkata:\nkalau memang benar rokok dikategorikan minyak wangi, hingga tidak diperbolehkan\ndigunakan saat ihrom, sedangkan kalau sholat jumat disunnahkan memakai minyak\nwangi dan rokok dimasukkan kategori minyakwangi, apakah saat sholat jum\u2019at\nboleh merokok?, temannya molongok dan diam, mungkin dihatinya menerima logika\nGus Baha\u2019. Wallahu \u2018alam\u2026..<\/p>\n","post_title":"Sosiawan Leak Bercerita Soal Rokok dan Do\u2019a","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sosiawan-leak-bercerita-soal-rokok-dan-doa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-26 08:54:57","post_modified_gmt":"2019-06-26 01:54:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5822","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":29},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Oleh: Mahbub Djunaidi<\/p>\n\n\n\n Sekolah kolonialisme memang berbeda-beda. Yang satu lebih brutal dari yang lain, tapi dilihat dari bintang, hakikatnya sama: mempesiang bangsa lain sebagai usaha mencari sesuap nasi. Kolonial Inggris di daerah konsesi seperti Shanghai memperlakukan orang Cina tak lebih dari binatang. Di sebuah taman kota ada tulisan di pintu gerbangnya \u201cDilarang masuk: anjing dan orang Cina\u201d. Sampai sekarang tulisan itu tidak diangkat, agar generasi demi generasi mengerti betapa jahatnya sistem itu. Tapi, kolonial Belanda di negeri ini menganggap Cina lebih tinggi derajatnya dibanding\u00a0inlander<\/em>, penduduk anak negeri seperti kita-kita ini. Mereka membagi kereta api atau trem kota dalam tiga kelas. Kelas 1 khusus untuk orang Belanda. Kelas 2 untuk Cina dan Arab. Kelas 3 alias kelas kambing buat\u00a0inlander-inlander<\/em>\u00a0anak negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n Kecuali para nasionalis dan kaum pergerakan kebangsaan serta rakyat patriot yang bertekad merobohkan sistem itu, ada juga inlander <\/em>yang bersedia jadi budak untuk menggencet bangsa sendiri. Misalnya, para bupati dan pangreh praja yang jelek. Karena jiwanya memang dasar budak, dalam banyak hal mereka lebih nista dari tuannya sendiri. Dan karena jiwanya memang budak, mereka tak punya kepercayaan kepada kemampuan sendiri dan menganggap tuan asingnya bagai dewa putih yang berasal dari langit, dan dalam segala hal lebih unggul. Hubungan antara budak dan tuannya ini mirip dengan hubungan antara hewan sirkus dengan pelatihnya, menurut saja apa yang diperintahkan, dan meniru saja apa yang dicontohkan.<\/p>\n\n\n\n Sisa jiwa inlander<\/em> ini masih ada juga sedikit bayak di alam kemerdekaan. Pangreh praja yang punya kegemaran menginjak ke bawah dan menjilat ke atas pada dasarnya tetap kehinggapan pembawaan inlander<\/em> itu. Seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander <\/em>gaya baru, dan mengidap unsur-unsur budak. Bawahan yang menganggap atasannya selalu perlu ditiru dan \u201cdigugu<\/em>\u201d, tak peduli apapun yang dilakukannya, pada dasarnya punya tabiat orang jajahan, tak punya karakter bangsa mereka. Kerdil, penakut, melayang kemana angin bertiup, merupakan pakaian sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n Sementara itu, jika seorang nyonya tidak sudi cangking tas kecuali merek Louis Vuitton walau bikinan Cibaduyut tak kalah bagusnya, berdandan dengan ramuan Yves Saint Laurent serta baju merek Calvin Klein, berkat dorongan anggapan bikinan asing itu dahsyat dan mampu naikkan gengsi, apakah terhadapnya kena pula julukan inlander<\/em> gaya baru?<\/p>\n\n\n\n Oh, bisa iya dan bisa juga bukan. Jangan-jangan sang nyonya memang patriot sejati, tapi karena kebanyakan uang menjadi sedikit bingung dan hilang keseimbangan. Atau seorang suami yang sudi memakai ikat pinggang merek Etienne Aigner dan domper merek Cartier dan hanya siap berangkat golf dengan kaos merek Lacosre, apakah inlander <\/em>gaya baru? juga bisa iya dan bisa juga tidak. Boleh jadi tokoh kita ini seorang pecinta tanah air berikut produksinya, tapi sekedar menjaga martabat dan gengsi, tak menjadi apa melekatkan barang-barang mahal ke tubuh satu-satunya.<\/p>\n\n\n\n Kawan saya yang tidak mau disebut inlander<\/em> baik gaya lama maupun baru, bertekad bulat kepingin menggunakan apa saja yang buatan dalam negeri, walau dia sama sekali tidak pernah ketemu Menteri Ginanjar Kartasasmita. Ia tidak merasa perlu memakai baju merek Charles Jourdan atau Lanvin, melainkan cukup bikinan Tegalparang yang tak beda dengan kemeja bikinan manapun di atas dunia. Ia tak merasa perlu pakai kaos merek Benetton karena produksi pinggiran kota Bandung sudah lebih dari cukup.<\/p>\n\n\n\n Dan untuk lebih membikin dia bukan inlander<\/em> yang kurang percaya harga diri sendiri, begitu mau berangkat ke luar negeri ia kempit berbungkus-bungkus rokok kretek, bukan Marlboro atau Camel atau Lucky Strike, yang kecuali untuk gengsi, asapnya biasa-biasa saja, tapi, begitu ia naik pesawat Air France, seorang pramugari menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n \u201cMaaf, tuan hisap apa? Apa tuan hisap Hashish? Apa tuan sudi ganti rokok yang biasa-biasa saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cini bukan hashish. Ini tembakau biasa campur cengkeh,\u201d jawab kawan saya. Dan karena tekadnya yang teguh mau menghisap rokok produksi negeri sendiri, kawan saya itu nekad hisap rokok kretek lagi di atas pesawat milik maskapai British Airways. Pada saat asapnya ngepul, datang lagi menghampiri seorang pramugari.<\/p>\n\n\n\n \u201cWah, bau apa itu? Apa ganja? Apa tuan bisa ganti yang lain saja? Para penumpang di sini idak biasa mengendus bau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cMasya Allah, ini bukan ganja, nona. Ini prodiksi Indonesia yang khas, ini warisan nenek moyang. Namanya rokok kretek.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sesudah itu ia merenung. Pikirnya, berabe juga mau berhenti jadi inlander<\/em>. Heran betul ia, kenapa iklan-iklan rokok kretek di boiskop-bioskop amat suka menonjolkan orang-orang asing asyik hisap rokok kretek sambil dayung-mendayung di atas gondola di Venezia atau di kaki menara Eiffel? Urusan apa orang-orang asing itu dnegan rokok kretek? Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana supaya kretek diterima dalam keluarga rokok baik-baik, bukannya dilirik dengan sebelah mata. Boleh saja sekali-sekali bung Joop Ave buktikan, sebelum bikin sarasehan internasional tentang \u201cpemantapan kretek\u201d.<\/p>\n\n\n\n Kompas, 29 Maret 1987 Babak baru usaha menyingkirkan Industri Hasil Tembakau dalam negeri dimulai. Mereka para antirokok seakan semakin kurang ajar saja dan kian semena-mena berupaya menggembosi produk rokok dalam negeri. Tak puas menggelar kampanye masif untuk mendiskriminasi produk rokok kretek dan para perokok, kini mereka berupaya menyerang dengan mengeluarkan produk aturan baru.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Memerangi Kretek, Cara Penjajahan Baru Menjajah Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memerangi-kretek-cara-penjajahan-baru-menjajah-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-27 07:03:27","post_modified_gmt":"2019-06-27 00:03:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5827","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5822,"post_author":"877","post_date":"2019-06-26 08:21:30","post_date_gmt":"2019-06-26 01:21:30","post_content":"\nKretek<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mahbub-djunaidi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-28 09:53:47","post_modified_gmt":"2019-06-28 02:53:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5829","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5827,"post_author":"878","post_date":"2019-06-27 07:03:21","post_date_gmt":"2019-06-27 00:03:21","post_content":"\n