Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n
Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n
Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n
Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n
Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n
Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n
Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n
Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n
Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n
Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n
Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n
Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n
Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n
Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n
Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n
Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n
Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n
Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n
Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n
Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT. Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT. Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil. Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0 Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat. Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau. Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami. Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea. Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya. Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba. Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang! Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba. Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n