\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};