\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5745,"post_author":"919","post_date":"2019-05-21 12:29:23","post_date_gmt":"2019-05-21 05:29:23","post_content":"\n

Saat Bulan Ramadhan, ngabuburit tentu menjadi aktivitas favorit yang dilakukan umat muslim di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jakarta. Rentang waktu dua jam sebelum berbuka dimanfaatkan oleh seluruh kalangan umur untuk bepergian sejenak sambil mencari angin sore, berbelanja, hingga memburu kudapan untuk dinikmati saat adzan maghrib tiba.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saya juga tak akan melewatkan momen-momen indah yang hanya bisa dinikmati satu bulan setiap tahun ini. Jika biasanya ngabuburit dilakukan hanya dengan berkeliling komplek tempat tinggal, kali ini saya akan mencoba jalan-jalan menuju ke pusat kota. Karena kegabutan yang hakiki, saya bersama teman memilih untuk ngabuburit ke Bundaran Hotel Indonesia dan memburu apa yang menarik di sana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Memulai perjalanan dari Jagakarsa, saya bersama teman yang bernama Azwar  kemudian bertemu di titik kumpul pertama yaitu stasiun MRT Lebak Bulus. Kami memang janjian untuk sama-sama menggunakan kendaraan umum baru kebangaan Indonesia itu. Pasalnya, mungkin baru tahun pertama ini masyarakat bisa melakukan ngabuburit menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Dugaan kami bahwa pengguna MRT di akhir pekan akan sangat sepi ternyata salah. Justru banyak keluarga atau pun individu yang menggunakan MRT untuk bepergian, tebakan saya 80 persen diantaranya pasti mempunyai niatan yang sama dengan saya, atau memang mereka sedang mengikuti buka bersama dan akses menuju ke tempat yang mereka tuju bisa menggunakan MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Saat di dalam MRT, saya bersama Azwar kemudian galau untuk mengubah destinasi. Jika sebelumnya di awal kami sepakat untuk turun di Bundaran HI, namun nampaknya akan sangat menarik juga jika turun di Bendungan Hilir dan mengunjungi pasar takjil di sana. Maklum saja, semenjak tinggal di ibu kota saya belum pernah mampir di Benhil yang memang menjadi favorit warga Jakarta untuk berburu kudapan takjil.
<\/p>\n\n\n\n

Kendati demikian, kami akhirnya tetap memutuskan untuk turun di Bundaran HI. Lagipula niat awalnya juga kami ingin menikmati senja yang hangat di sana, sambil menikmati takjil yang kita beli. Begitu sampai di sana, justru kami tak menemukan pedagang makanan di Bundaran HI, tak ada tukang kopi berkeliaran atau yang lainnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a> \u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Hal itu yang membuat kami akhirnya harus berjalan kembali sekitar 100 meter ke arah belakang Mall Grand Indonesia. Akhirnya, surga kuliner yang kami cari dapat ditemukan di sana. Saat itu kami tiba pada pukul 17:05 dan para pedagang sudah sibuk menjajakan daganganya dan melayani para pembeli. Tak ingin kehabisan, kami pun berburu makanan yang menarik minat.
<\/p>\n\n\n\n

Pilihan akhirya tertuju pada satu porsi pecel, dua buah melon iris, cilok, dan ceker balado, tentu ada dua botol minuman dan satu bungkus rokok. Adzan Maghrib pun tiba, kami pun berbuka dan makanan yang dibeli tadi seketika ludes kami lahap. Bukan kalap karena lapar, namun kami kaget karena jajanan pinggir jalan yang kami beli ini rasanya cukup nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.
<\/p>\n\n\n\n

Satu pecel porsi seharga 10 ribu, dua buah melon iris berukuran besar juga 10 ribu, ceker balado juga sama, dan cilok kami beli seharga lima ribu. Pecel yang kami beli bumbunya sangat nikmat, lalu melonnya pun benar-benar manis alami. Favorit kami adalah seblak balado, mengapa? Bumbunya berani dan banyak dan sangat memanjakan lidah kami.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti di situ, kami masih tertarik untuk membali kudapan lainnya. Maklum saja, untungnya kami tak memakan nasi atau lontong saat berbuka yang membuat perut sering menjadi langsung kenyang. Ronde kedua kami membeli dimsum, sayap balado di tempat yang sama saat membeli ceker balado, serta thai tea.
<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dengan harga yang murah lidah kami dimanjakan dengan rasa yang nikmat. Dimsum jalanan yang kami beli rasanya tak kalah dengan bikinan restoran mewah, sayap balado? Kali ini lebih mantap karena takaran pedasnya kami naikkan. Sedangkan Thai Tea ini yang paling primadona, tidak bikin enek, rasanya pas dan menyegarkan. Uang yang kami keluarkan untuk ronde kedua kali ini sekitar 50 ribu rupiah. Jika dihitung-hitung, total 115 ribu habis untuk sembilan makanan+minuman+sebungkus rokok yang kami keluarkan. Tentu harga yang cukup murah mengingat kami membelinya di pusat kota yang katanya lebih mahal segala sesuatunya.
<\/p>\n\n\n\n

Sambil menikmati ragam jenis kudapan tadi memang paling nikmat sembari ditemani rokok. Hisapan demi hisapan tentu sangat lezat dinikmati sambil menyantap jajanan yang kami beli. Kami juga akhirnya menarik sebuah kesimpulan bahwa masih banyak surge kuliner yang belum terekspos media atau bahkan yang sudah terkenal justru menurun kualitasnya saat kami coba.
<\/p>\n\n\n\n

Ngabuburit di Bundaran HI memang akhirnya berakhir pada pukul 19:15, namun perburuan kami tak berhenti di sini dan akan dilanjutkan hari-hari mendatang!
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travelers: Surga Kuliner Tersembunyi di Belakang Bundaran HI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travelers-surga-kuliner-tersembunyi-di-belakang-bundaran-hi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-21 12:29:31","post_modified_gmt":"2019-05-21 05:29:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5745","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5743,"post_author":"877","post_date":"2019-05-20 13:19:25","post_date_gmt":"2019-05-20 06:19:25","post_content":"\n

Sebagai warga yang cerdas, sejarah bagian dari guru dan pengalaman untuk melangkah kedepan. Generasi nenek kita, memproduksi sendiri minyak goreng dengan bahan baku buah kelapa yang banyak ditemukan di bumi Nusantara. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan proses pembuatan minyak goreng didapat turun temurun dari nenek moyang. Hingga banyak Industri minyak goreng skala rumahan maupun industri besar. Akan tetapi saat ini, minyak goreng dari bahan buah kelapa sulit didapat. Industri rumahan sudah jarang ditemukan, industri besar kalah saing dengan minyak goreng dengan bahan kelapa sawit. Kejadian ini, bukan tanpa sebab, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan minyak goreng produk asli Indonesia, yang sebelumnya sudah mendunia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak segan-segan untuk menjatuhkan minyak goreng asli buatan masyarakat Indonesia, dengan isu kesehatan.  Konon minyak goreng kelapa tidak menyehatkan, menjadi penyebab penyakit, tidak bersih dan lain sebagainya. Anehnya, isu tersebut keluar dari saudara kita sendiri, dan tidak jarang dari pihak yang mengatasnamakan polisi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Nyatanya minyak goreng kelapa yang diisukan tidak menyehatkan, justru paling menyehatkan dibanding minyak goreng dari bahan lain. Dan bahkan minyak goreng dari bahan kelapa  sebagai media untuk pengobatan dan bagus untuk tubuh manusia. Cerita pengalaman dari istri teman bernama Laela,disaat tubuh bapaknya mulai kering dari luka bakar, ternyata kulit yang tumbuh di badan bapaknya kaku, hingga kesulitan bergerak. Hanya dengan kesabarannya mengoleskan minyak goreng dari bahan kelapa yang dibuatnya sendiri, kulit yang awalnya kaku perlahan melemas dan bapaknya perlahan bisa bergerak kembali. Saat ini kondisi bapaknya sudah normal kembali seperti sediakala. <\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya minyak kelapa banyak khasiatnya, namun keberadaannya saat ini kalah pasar dengan minyak nabati. Karena masifnya isu bahwa minyak goreng juga menjadi penyebab penyakit jantung. Ternyata isu tersebut bohong belaka, justru minyak goreng nabatilah yang tidak sehat dan menimbulkan penyakit. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejarah tumbangnya banyak industri minyak kelapa skala rumahan maupun industri besar ini, sebagai pengalaman, jangan sampai terulang kembali terjadi pada sektor pertembakauan di Indonesia. Terlebih untuk rokok kretek asli temuan anak bangsa. Didalamnya terkandung zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia, dan bahkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
<\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya, kasus pada rokok kretek sekarang hampir mirip dengan kasus minyak goreng kelapa (kopra). Dengan dalil kesehatan, rokok kretek sebagai kambing hitam penyebab banyak penyakit. Hampir semua penyakit manusia dihubungkan dengan rokok kretek. Hampir semua pasien yang laki-laki saat berobat, pertama kali yang ditanyakan adalah anda merokok?. Jika di jawab ya, pasti dokter pertama kali akan mengkaitkan penyakitnya dengan sebagai perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, penggiat anti tembakau selalau mengkapanyekan bahayanya rokok kretek, hingga ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan peredaran tembakau dan rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Bahaya rokok yang mereka tuduhkan tanpa dasar dan bukti kuat, mereka hanya berasumsi. Celakanya, rerata mereka yang mengkampanyekan bahaya rokok, hanyalah berpedoman dengan hasil riset yang dilakukan di Amerika. Sedangkan barang yang diriset bukanlah rokok kretek pruduk Indonesia, melainkan rokok putihan yaitu rokok tanpa cengkeh. Walaupun begitu, tetap rokok putih bahan utamanya tembakau yang mengandung nikotin. Sedangkan nikotin sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
<\/p>\n\n\n\n

Tuduhan anti tembakau tentang bahaya merokok, hanyalah sebagai landasan kepentingan bisnis korporasi-korporasi industri farmasi dunia. setidaknya ada dua agenda besar menjadi sasaran industri farmasi, yaitu; menguasai pangsa nikotin, dan menjual produk penggati rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Guna melancarkan dua agenda tersebut, industri farmasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari para ahli farmasi, para dokter, para politisi, para penggiat anti tembakau, badan nasional bahkan badan internasional seperti WHO (world health organization). Serta tak luput menggalangang dukungan dari agama-agama yang ada di dunia. <\/p>\n\n\n\n

Sehingga, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana untuk kepentingan memerangi dan mengkampanyekan bahaya rokok. Di Indonesia ada 20 lembaga yang pernah mendapatkan kucuran dana tersebut, setidaknya mereka dalam satu agenda memerangi dan mengontrol peredaran rokok di Indonesia, terlebih rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Departepen Kesehatan), Indonesia Corruption Watch, Farum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan Dan Pembanguan, Institute Pembangunan Sosial Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dan Tobacco Control Working Group, Forum Warga Kota Jakarta, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Lembaga Pembinaan Dan Perlindungan Konsumen Semarang, No Tobacco Community, Kajian Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Udayana, Yayasan Swisscontact Indonesia, Asosiasi Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Dinas Kesehatan, Yayasan Pusaka Indonesia, Dan Muhammadiyyah. (sumber dilansir : http:\/\/tobaccocontrolgrants.org\/Pages\/40\/What-we-fund<\/a>, atau baca buku Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia diterbitkan KNPK) \u00a0\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Begitu hebatnya tanaman emas hijau ini, hingga harus diperangi dengan menggunakan serdadu begitu banyak dari berbagai penjuru. Hal ini sangat beralasan, karena keberadaan nikotin secara alamiah terkandung dalam tembakau atau emas hijau. Dan nikotin sangat bermanfaat untuk pengobatan dan terapi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi kampanye anti tembakau dan rokok, hanyalah sebagai modal politik dagang untuk menguasai nikotin. Dengan mematikan industri rokok, maka pasar nikotin akan terkuasai dengan mudah. Karena selama ini tembakau dan cengkeh mayoritas dibeli untuk kepentingan bahan dasar rokok, dengan harga relatif bagus yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani, serta padat karya. Artinya banyak orang yang terlibat dalam pertembakauan dari hulu sampai hilir.  

<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Boleh Tumbang seperti Minyak Goreng Nusantara \ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-boleh-tumbang-seperti-minyak-goreng-nusantara-%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-20 13:19:33","post_modified_gmt":"2019-05-20 06:19:33","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5743","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5741,"post_author":"878","post_date":"2019-05-18 11:38:54","post_date_gmt":"2019-05-18 04:38:54","post_content":"\n

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu. <\/h2>\n\n\n\n

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.<\/p>\n\n\n\n

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar 'Kota Tembakau' menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.<\/p>\n\n\n\n

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.<\/p>\n\n\n\n

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para--yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau--di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa. <\/p>\n\n\n\n

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.<\/p>\n\n\n\n

\"Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.\" Ujar Buklik Nisa.<\/p>\n\n\n\n

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa. <\/p>\n\n\n\n

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.<\/p>\n\n\n\n

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.<\/p>\n\n\n\n

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.<\/p>\n\n\n\n

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto. <\/p>\n\n\n\n

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:39:25","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:39:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5741","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5738,"post_author":"1","post_date":"2019-05-17 10:05:36","post_date_gmt":"2019-05-17 03:05:36","post_content":"\n

Saat mendaki tangga-tangga Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), usia kandungan Umi sudah memasuki delapan bulan. Sembari mendaki tangga, ia mencari nomor kursi yang sama persis dengan nomor tes miliknya. Umi hendak mengikuti tes PNS, jika lolos, ia bukan lagi guru honorer untuk mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar.

\nTitimangsa itu, ketika Umi mengandung janin dalam rahimnya yang kini menjadi saya, Diego Armando Maradona mencetak gol 'Tangan Tuhan' dan gol solo run melewati lebih separuh pemain Inggris pada gelaran piala dunia di Meksiko. Umi akhirnya lolos dan hingga kini mengabdi sebagai guru Agama Islam di sekolah dasar. Tahun ini, masa akhir pengabdian Umi. September nanti Umi memasuki masa pensiun.

\nSelain Umi, hampir seluruh saudara perempuan Umi juga berprofesi sebagai guru. Ibu dari Umi, nenek saya, meski buta aksara latin, ia juga seorang guru. Guru mengaji di kampung kami, Rawabelong.

\nKarena mereka semua, saya begitu menghormati profesi guru. Begitu luhur berbalur pengabdian. Dedikasi dan kesabaran mereka membikin saya merasa mendekati mustahil bisa berprofesi laiknya mereka. Saya merasa tidak pantas untuk profesi itu.

\nNamun, nasib menggiring saya ke jalur yang mirip dengan jalur yang dilalui Umi, Nenek, dan saudara-saudara perempuan Umi. Saya menjadi sukarelawan guru di Sokola Rimba sejak 2011 hingga kini. Atas aktivitas saya di Sokola Rimba pula, saya bisa menyelam lebih dalam bukan sekadar dalam lautan profesi guru, juga lautan dalam yang melintasi palung bernama palung pendidikan.

\nSelain di Sokola Rimba, kini saya juga terlibat dalam program beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung. Saya terlibat di bawah lembaga bernama Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK).

\nSelasa, 7 Mei 2019, saya berangkat ke Temanggung dari Yogya. Jam 08.13 WIB saya meninggalkan rumah menuju terminal Jombor menumpang ojek online. Dalam perjalanan menuju Jombor, tak banyak yang saya perbincangkan dengan supir ojek online. Kami sekadar membicarakan kondisi cuaca serasa menjadi masyarakat Inggris. Selebihnya diam.

\nTak lama usai saya duduk dalam bis yang akan membawa saya dari Jombor menuju Secang, Kabupaten Magelang, bis berangkat. Puasa membikin pagi-pagi saya dipenuhi rasa kantuk. Tidur menjadi pilihan paling baik tentu saja. Saya terjaga sesaat sebelum tiba di Secang. Dari Secang, saya pindah bis menuju Temanggung. Dengan ongkos Rp5 ribu, lama perjalanan 18 menit, saya tiba di pusat kota Temanggung, bersebelahan dengan kantor bupati.

\nKali ini, setidaknya saya berada di Temanggung selama tiga hari, 7 hingga 9 Mei 2019. Tugas utama saya kali ini selama tiga hari adalah berkunjung ke sekira 25 rumah petani, buruh tani, dan para pekerja yang terkait dengan sektor pertembakauan. Saya harus berjumpa mereka untuk berbincang perihal pendidikan anak mereka yang tahun ini lulus SMP dan bersiap masuk jenjang SMK. Mereka adalah keluarga yang salah seorang anaknya ada kemungkinan menerima beasiswa KNPK tahun ini.

\nPada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba cerita perihal perjalanan ke 25 rumah di empat kecamatan di Temanggung itu. Dari kunjungan itu, saya mendapat banyak cerita perihal lanskap rumah tangga sebuah keluarga, kondisi perekonomian mereka, peran sektor pertembakauan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga, hingga dunia pendidikan di Temanggung serta kisah-kisah biasa dalam sebuah perjalanan di bulan puasa berkeliling Kabupaten Temanggung.

\nMungkin masih akan ada dua tulisan sambungan lagi, bisa jadi tiga, atau empat, atau lima. Terserah pimpinan redaksi situsweb ini saja sudah.<\/p>\n","post_title":"Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-18 11:32:41","post_modified_gmt":"2019-05-18 04:32:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5738","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":31},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};