Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n\n
Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya.
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n\n
Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n
Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n\n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n\n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n\n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n\n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n\n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n\n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n\n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar? Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n \n\n\n Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar? Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n \n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n \n\n \n Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar? Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular. Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n \n\n \n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n \n\n \n Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar? Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia. Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular. Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n \n\n \n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n \n\n \n Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar? Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan. Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia. Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular. Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n \n\n \n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n \n\n \n Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar? Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n \n\n\n Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan. Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia. Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular. Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n \n\n \n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n \n\n \n Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar? Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n \n\n\n Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n \n\n \n Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan. Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia. Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular. Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n \n\n \n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n \n\n \n Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar? Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita. Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n \n\n \n Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n \n\n \n Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan. Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia. Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular. Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n \n\n \n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n \n\n \n Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar? Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. \u0627\u0644\u0645\u0624\u0644\u0641 : \u0648\u0632\u0627\u0631\u0629 \u0627\u0644\u0623\u0648\u0642\u0627\u0641 \u0648 \u0627\u0644\u0634\u0624\u0648\u0646 \u0627\u0644\u0625\u0633\u0644\u0627\u0645\u064a\u0629 \u0628\u0627\u0644\u0643\u0648\"\" Rokok selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab dari tingginya angka kematian umat manusia. Angka dan data jadul yang selalu diulang-ulang mengenai rokok penyebab kematian, seakan membius kita bahwa rokok-lah musuh bersama. Sementara rokok dijadikan musuh bersama, kita justru abai terhadap musuh riil yang sedang mengintai kehidupan kita. Baru-baru ini sebuah penelitian menyatakan bahwa pola makan yang tidak sehat lebih banyak meningkatkan resiko kematian dini daripada faktor risiko lainnya, termasuk merokok. <\/p>\n \n\n \n Baca: Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)<\/a><\/p>\n \n\n \n Ini artinya agen malaikat pencabut nyawa manusia ada di pola makan kita. Apakah sudah sehat atau tidak sehat? satu hal yang seringkali diabaikan. Berdasarkan Studi Global Burden of Disease yang mengamati konsumsi makanan di 195 negara, antara tahun 1990 dan 2017, fokus pada 15 jenis makanan atau nutrisi mengamini pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar kematian manusia. Penelitian lainnya yang bersumber dari Medical News Today, dalam sebuah makalah yang dimuat dalam The Lancet, para peneliti menyimpulkan, pola makan yang buruk menyumbang 1 dari 5, atau 11 juta, kematian orang dewasa pada tahun 2017. Sebagian besar dari kematian itu, sekitar 10 juta, berasal dari penyakit kardiovaskular. Sisanya terutama dari kanker dan diabetes tipe 2. Peringkat negara-negara dari tingkat kematian terkait diet terendah ke tertinggi menempatkan Israel pertama, dengan 89 kematian per 100.000 orang, dan Uzbekistan terakhir, dengan 892 per 100.000. Amerika Serikat, dengan 171 kematian per 100.000, berada di posisi ke-43 dan Inggris di peringkat ke-23, dengan 127 kematian per 100.000. India di tempat ke-118, dan Cina di ke-140.<\/p>\n \n\n \n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n \n\n \n Penelitian termutakhir yang di sebutkan di atas merupakan penelitian yang bersifat global, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kasus pola makan yang tidak sehat juga menjadi penyebab kematian terbesar? Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Triyani Kresnawan, DCN,Mkes, Instalasi Gizi RSCM dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Gizi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food). Persoalan menjaga keseimbangan dalam pola makan ini juga disampaikan oleh Spesialis Patologi Anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Evalina Suzana. Ia mengatakan pola makan yang sehat merupakan bagian bentuk pencegahan dari penyakit kanker. Di luar dari olahraga yang teratur, minum air, dan tidur yang cukup. Menurut Eva, sebuah pola bisa dibilang sehat jika semua yang masuk ke dalam tubuh seimbang. Tidak boleh berlebihan bukan berarti tidak dimakan sama sekali. Harus terdiri dari 50 persen protein, 30 persen karbohidrat, dan 20 persen lemak dan serat. Itu harus dipenuhi di luar mineral-mineral yang ada. Nah loh, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa pola makan tidak sehat merupakan penyebab resiko kematian terbesar, lalu mengapa hanya rokok yang terus-menerus dituduh dalam kampanye kelompok-kelompok antirokok yang mengatasnamakan kesehatan? Untuk memahami hal ini tentunya anda harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri farmasi dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai \u201cNicotin War\u201d. Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri farmasi untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut. Dalam tradisi lisan mengenai tembakau dan hasil olahan tembakau (kretek), Kudus, Temanggung dan Madura adalah tiga kota yang memiliki cerita rakyat berhubungan dengan Sunan Kudus. Ketiga kota tersebut pertembakauan. <\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat yang melegenda tentang Kudus menjadi kota kretek, Temanggung dan Madura sebagai kota budidaya tembakau ada beberapa versi. <\/p>\n \n\n \n Pertama<\/em>; gara-gara banyak pengakuan akan kecerdasan Sunan Kudus, menjadikan ketenaran di bumi Nusantara. Sunan Kudus selain seorang yang \u2018alim dalam bidang agama, juga mempunyai kelebihan dalam bidang spiritual. Dibuktikan dengan cerita rakyat yang mengakar di masyarakat, konon Sunan Kudus dapat membersihkan wabah penyakit yang melanda di Palestina atau kota Yarussalem. Namun tidak ada keterangan sedikitpun wabah apa yang diderita masyarakat Yarussalem saat itu. Akan tetapi cerita rakyat tersebut sudah menjadi warisan cerita rakyat yang turun temurun. Lain halnya cerita tersebut, bahwa dalam perjalanan berdakwah, Sunan Kudus memilih jalan damai, mengakulturasikan budaya Islam dengan budaya lokal (peradaban Hindu). Sehingga, sudah sepantasnya Sunan Kudus lebih disukai masyarakat. Keharuman dan ketenaran Sunan Kudus menjadi bahasan para elit agama saat itu, sehingga muncul rasa penasaran yang berlebih oleh Ki Ageng Kedu. Pada akhirnya Ki Ageng Kedu melakukan perjalanan ke Kudus untuk menemui Sunan Kudus. Cerita yang beredar di masyarakat, perjalanan Ki Ageng Kedu dengan menggunakan tampah, yaitu berbentuk bulat agak besar seperti nampan, terbuat dari anyaman bambu di bingkai dan diikat dengan bambu. Dengan tampah tersebut Ki Ageng berputar-putar di atas tempat tinggal Sunan Kudus (disekitar masjid Menara Kudus), sambil berteriak mencari Sunan Kudus. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Sunan Kudus bersama santrinya baru selesai sholat berjamaah di masjid. Setelah Sunan Kudus mengerti bahwa dirinya di cari seseorang, kemudian Ki Ageng Kedu disuruhnya turun. Namun himbauan Sunan Kudus tidak di indahkan Ki Ageng Kedu, kemudian Sunan Kudus melemparkan \u201cbakiak\u201d, yaitu sandal yang terbuat dari kayu ke arah Ki Ageng Kedu dan kena. Akhirnya Ki Ageng Kedu kehilangan arah dan jatuh di comberan (sekarang terkenal dengan sebutan Desa jember Kudus). Setelah jatuh Ki Ageng Kedu minta maaf kepada Sunan Kudus. Kemudian, oleh Sunan Kudus disuruh Ki Ageng Kedu untuk membersihkan badannya di Pasucen (sekarang menjadi nama daerah yang letaknya utara masjid Menara + 500 m). Setelah suci baru dipersilahkan menginap di sebelah utara tempat tinggal Sunan Kudus (menjadi nama daerah Kenepan). Dipersilahkannya Ki Ageng untuk menginap sebagai kiasan diterimanya menjadi santri Sunan Kudus dan masuk Islam. Yang kemudian diperintahkan untuk berkholwat atau menyepi ke arah utara (sampai di Desa Gribig kecamatan Gebog). Di desa Gribig inilah diyakini masyarakat Kudus terdapat makam Sunan Kedu. Sampai sekarang, sering dikunjungi bagi siapa saja yang berdagang tembakau atau berdagang hasil olahan tembakau berupa rokok.<\/p>\n \n\n \n Perjalanan Kholwat, Ki Ageng Kedu di lakukan pada malam hari agar tidak ada orang yang tahu, namun dalam perjalanannya Ki Ageng Kedu terantuk\/tersandung pagar dalam bahasa jawa \u201cbetek\u201d (sekarang menjadi nama daerah mbetean<\/em>), kemudian Ki Ageng Kedu kembali lagi untuk mengambil alat penerangan di Damaran (nama Desa).<\/p>\n \n\n \n Setelah dianggap cukup dalam melakukan kholwat, kemudian Ki Ageng Kedu diperintahkan pulang, dan pada saat itulah Ki Ageng Kudu diperintahkan memakai gelar Sunan. Atas saran Sunan Kalijaga, kepada Sunan Kudus kepulangan Sunan Kedu diberikan oleh-oleh tanaman padi raja lele dan tembakau. Karena tidak bisa langsung dikonsumsi dan tidak bisa mengolah sendiri pada akhirnya hasil panen daun tembakau di kirim ke Kudus. Dari sinilah yang kemudian Kudus menjadi kota Kretek. <\/p>\n \n\n \n Kedua<\/em>; berbeda dengan cerita rakyat yang pertama, diceritakan KH. Fatkhur Rahman, cerita dari gurunya, bahwa pada saat kerajaan Demak mengadakan sarasehan yang dihadiri Kiai Telingsing Kudus, Sunan Kudus, Sunan Kedu dan sunan-sunn yang lain. Sarasehan tersebut di akhiri perjamuan makan \u201ckupat\u201d bersama, yaitu jenis makanan yang dibungkus dengan janur\/daun kelapa. Selesai makan bersama, masih banyak sisa makanan saat itu di atas meja, kemudian Sunan Kudus mengumpulkan makanan tersebut. Apa yang telah dilakukan Sunan Kudus tersebut biasa dilakukan oleh kaum santri saat melihat sisa makanan dari orang-orang sholeh atau sisa gurunya. Namun keadaan tersebut berbeda dengan kebiasaan para Bangsawan saat itu, dan bagi mereka apa yang dilakukan Sunan Kudus tidaklah wajar. Akhirnya, apa yang telah dilakukan Sunan Kudus menjadi perhatian Sunan Kedu. Yang kemudian terjadilah perkenalan. <\/p>\n \n\n \n Pada saat itu Kedu sudah terkenal dengan tanaman tembakaunya yang berkualitas. Namun tidak mengerti cara mengolah dan kegunaannya. Yang kemudian Sunan Kudus menjadikan bahan utama untuk rokok.<\/p>\n \n\n \n Cerita rakyat tersebut apakah benar atau tidak, Wallahu \u2018Alam....yang jelas cerita-cerita tersebut beredar di masyarakat dan menjadi jawaban mengapa Kudus yang tidak ada tanaman tembakau, tetapi industri kretek berkembang.<\/p>\n \n\n \n Madura punya cerita lain, keberadaan tembakau di Madura tidak terlepas keberadaan Pangeran Katandur. Pangeran Katandur adalah gelar yang diberikan masyarakat Madura kepada Habib Ahmad Baidawi, putra dari Pangeran Pekaos dan cucu Sunan Kudus. Katandur <\/em>berasal dari kata \u201ctandur<\/em>\u201d (tanam), artinya yang menanam. Pangeran Katandur putra dari Habib Sholeh yang bergelar panembahan Pakaos putra Sunan Kudus (Sayyid Ja\u2019far Sodiq bin Sayyid Usman Sunan Andung). Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, sebelum kedatangan Pangeran Katandur, Sumenep termasuk daerah yang sangat tandus, wajar jika tidak terlihat tanaman hijau, namun setelah kedatangan Pangeran Katandur menjadi berubah, karena kemahiran beliau dalam bertani. Konon, sebelum memulai menanam, Pangeran Katandur berdo\u2019a meminta hujan kepada Tuhan, melalui proses bertapa. Walhasil, do\u2019anya terkabul, tanaman tembakaunya berhasil. Tanaman tembakau<\/a> di Sumenep menjadi tanaman favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Pangeran Katandur terkenal mahir dalam pertanian, baik bercocok tanam, membajak sawah dengan menggunakan alat yang dinamakan Nanggala atau Salagah, yaitu alat berupa besi lancip yang diikatkan pada kayu dan ditarik dua ekor sapi. Pangeran Katandur hidup sekitar abad 13 sekitar tahun1248. Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo\u2019akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya.
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":"\n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n ","post_title":"Konteks Pembahasan Hukum Merokok dalam Bahtsul Masail di Surabaya Tahun 2010 Beserta Rujukan Dalilnya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"konteks-pembahasan-hukum-merokok-dalam-bahtsul-masail-di-surabaya-tahun-2010-beserta-rujukan-dalilnya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-24 11:00:50","post_modified_gmt":"2019-04-24 04:00:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5657","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5653,"post_author":"883","post_date":"2019-04-23 12:23:36","post_date_gmt":"2019-04-23 05:23:36","post_content":"\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Pola Makan Tidak Sehat Membunuhmu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pola-makan-tidak-sehat-membunuhmu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-23 12:23:48","post_modified_gmt":"2019-04-23 05:23:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5650,"post_author":"877","post_date":"2019-04-22 11:58:26","post_date_gmt":"2019-04-22 04:58:26","post_content":" \n
<\/p>\n ","post_title":"Cerita Rakyat Tentang Kretek dan Tembakau di Tiga Kota (Kudus, Temanggung, Madura)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-rakyat-tentang-kretek-dan-tembakau-di-tiga-kota-kudus-temanggung-madura","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-22 11:59:00","post_modified_gmt":"2019-04-22 04:59:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5650","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":33},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};