REVIEW

Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung

Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek.

Jumlah penduduk Kabupaten Temamanggung pada tahun 2015 adalah 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa.  Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau.

Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id/subject/54/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.  

Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, dilansir dari GEO UGM , tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta.

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok

Dilihat luasan lahan Kabupaten  Temanggung adalah 87.065  ha, 78,5% atau 68.346 ha  berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142  ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8%  atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas:

  • Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
  • Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
  • Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
  • Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
  • Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 – 3.100 mm per tahun dengan 8 – 9 bulan basah dan 3 – 4 bulan kering.

Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya  dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap  tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah  tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih baik disbanding komoditas lainnya. Pola  pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut:

  • Jagung/jagung + tembakau (55,1%)
  • Jagung/bawang merah + tembakau (5,8%)
  • jagung/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
  • Jagung/bawang putih + tembakau (6,5%)
  • Jagung/lombok + tembakau (5,8%)
  • Padi/tembakau (4,5%).

Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim.  Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do’a kepada leluhur, terlebih mendo’akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do’a bersama. Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo’akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanamannya.

Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta  “rigen” atau “daru rigen”, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (sang Pencipta).

Di Temanggung terdapat pasar tembakau yang terkenal saat panen raya, yaitu pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota. Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama’ NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin.

Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan didiami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut. Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung pada umumnya sebagai penghasil tembakau terbaik sedunia.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW