Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n
*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n
Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n
*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong> Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada masa pendudukan Jepang kretek jadi simbol nasionalisme di kalangan kaum pergerakan. Jepang mendorong ideologi dewesternisasi dalam untuk memerangi pengaruh Barat. Sejauh apa kebijakan politik kebudayaan Jepang memiliki pengaruh? Sudah tentu susah menjawabnya. Namun demikian kretek terlihat semakin menjadi penanda identitas orang Indonesia (cultural identity<\/em>), yang notabene dihadap-hadapkan dengan \u201crokok putih\u201d ala Barat. Seturut Pram, waktu itu satu-satunya yang merokok ala Barat adalah orang Barat. Mereka tidak akan pernah menyentuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Dalam konteks inilah penamaan \u201crokok putih\u201d yang dipertentangkan dengan rokok ala Indonesia khususnya kretek merupakan bagian dari sejarah proses sosial politik, ekonomi dan simbolis untuk menantang struktur kekuasaan kolonial yang akhirnya bermuara pada perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian munculnya istilah rokok putih dan kretek dalam kesejarahan Indonesia modern memiliki fungsi konseptualisasi merumuskan bagan pembeda antara kami (the self<\/em>) dan mereka (the other<\/em>). Kami-lah (Indonesia, pribumi, non-Barat) yang menciptakan kretek, di mana menjelang akhir dominasi kolonialisme, ternyata kretek sanggup berdiri sejajar dengan rokok putih yang adalah simbol eksistensi budaya mereka (Belanda, asing, Barat). <\/p>\n\n\n\n Demikianlah, boleh dikata tradisi tembakau khususnya budaya kretek, langsung atau tidak langsung, kemunculannya memiliki peranan penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Ini nampak dalam sejarah pembentukan politik-identitas negara-bangsa (nation-state<\/em>) yang berupa tumbuhnya identitas kultural, mekarnya rasa nasionalisme dan guratan mendalam tentang jatidiri kei-Indonesiaan yang berakar pada tradisi masa silam, yaitu budaya nyirih<\/em>, nginang<\/em> atau nyusur<\/em>. Dalam sejarah panjang negeri yang terdiri dari bermacam suku dan bahasa yang kita kenal sebagai Indonesia, kretek tak bisa dipisahkan darinya. Sejarah panjang negeri ini berpilin-berkelindan dengan sejarah kretek yang menjadi salah satu ciri khas bangsa ini hingga hari ini. Kretek yang terdiri dri dua bahan baku utama yaitu cengkeh dan tembakau, bisa dikatakan menjadi salah satu sebab mengapa beberapa negara di Eropa bersaing dan berperang berebut menguasai negeri ini.<\/p>\n\n\n\n Mulanya pada abad ke-16, Spanyol dan Portugis bersaing memperebutkan kepulauan yang dikenal dengan pulau rempah-rempah di wilayah timur Indonesia. Mereka berperang dan berusaha mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang menjadi primdona di pasar Eropa. Selanjutnya, Inggris, Belanda, hingga Perancis turut serta memperebutkan pulau-pulau yang banyak ditumbuhi tanaman rempah-rempah tersebut hingga pada akhirnya Belanda berhasil menguasai dan memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Perang-perang yang terus dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah jajahan mereka sepenuhnya membutuhkan begitu banyak biaya. Salah satu sumber pendanaan mereka untuk kebutuhan perang adalah dengan memonopoli penjualan rempah-rempah. Lebih dari itu, mereka juga menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat jajahan dengan komoditas yang ditanam hampir seluruhnya mesti disetorkan kepada pihak penjajah. Mulai dari Sumatera hingga Maluku, sistem tanam paksa ini diberlakukan. Di beberapa tempat, komoditas tembakau menjadi komoditas pertanian yang wajib ditanam warga. Di Deli Serdang dan di Jember misalnya.<\/p>\n\n\n\n Berkat monopoli ini, dan berkat tanam paksa yang diterapkan penjajah, Belanda berhasil menutup kerugian perang dan mampu membawa keuntungan besar untuk membangun negeri mereka. Keuntungan dari monopoli rempah-rempah dan sistem tanam paksa mengubah negeri Belanda dari sebelumnya kurang diperhitungkan menjadi negeri yang sangat diperhitungkan di Eropa. <\/p>\n\n\n\n Pada saat yang hampir bersamaan, masyarakat di penjuru negeri juga sudah memanfaatkan rempah-rempah dan tembakau sebagai produk konsumsi, pengobatan, dan ritual-ritual tradisi dan kebudayaan mereka. Selain itu, keduanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam hal ini, rempah-rempah dan tembakau masuk dalam pusaran pertarungan di negeri ini, menjadi latar belakang kedatangan penjajah untuk menguasai negeri ini, sekaligus menjadi alat perlawanan masyarakat negeri ini menghadapi para penjajah itu.<\/p>\n\n\n\n Hingga kemudian, salah satu dari rempah-rempah itu, yaitu cengkeh, menyatu bersama tembakau dalam wujud kretek sebagai alat perlawanan baru terhadap penjajah. Adalah Haji Djamhari yang pada periode 1870 hingga 1880 menemukan ramuan kretek ini. Cerita-cerita yang dipercaya umum menyebutkan bahwa Haji Djamhari menemukan ramuan kretek secara tidak sengaja. Ia mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau miliknya kemudian mengisapnya. Ia melakukan itu karena penyakit asma yang Ia derita. Setelah merasa cocok, Ia kemudian tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, namun mencampur bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau kemudian dilinting dan diisap. Ramuan itu mampu meredakan penyakit asma yang diderita Haji Djamhari.<\/p>\n\n\n\n Pada 1906 Nitisemito mendirikan perusahaan rokok kretek di Kudus bernama Bal Tiga. Di tengah arus perubahan perlawanan terhadap penjajah dari perlawanan-perlawanan fisik menuju gerakan-gerakan terorganisir kaum terpelajar, Nitisemito dan perusahaan rokok kretek Bal Tiga ambil peran dalam perlawanan itu. Ia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, Nitisemito juga dipercaya memberikan sumbangan dana yang tak sedikit kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sumbangan itu diambil dari keuntungan perusahaan Bal Tiga. <\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan Nitisemito bisa ikut menyumbang dana untuk kemerdekaan Indonesia karena keuntungan yang diraih perusahaannya sangat besar ketika itu. Nitisemito sampai digelari raja kretek dan 18 tahun setelah perusahaannya berdiri, Ia mampu mempekerjakan sekira 15.000 orang. Perkembangan pesat perusahaannya juga dianggap sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap pengusaha-pengusaha asing yang membantu kelestarian penjajah. Atas dasar inilah banyak pihak yang berusaha menghancurkan Nitisemito dan perusahaan rokok kretek miliknya.<\/p>\n\n\n\n Selepas Indonesia merdeka, produk kretek kembali berhasil menguasai pasar dalam negeri sejak periode 70an hingga saat ini. Saat ini, lebih 90 persen pasar rokok nasional dikuasai produk rokok kretek dengan ragam variannya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap petani cengeh dan petani tembakau sebagai pemasok bahan baku produk kretek. Sehingga, jika kita hendak melihat bentuk nyata kedaulatan dan kemandirian petani, lihatlah para petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\n\n\n\n Pasar besar produk rokok kretek di Indonesia (yang cukainya saja dalam lima tahun terakhir mampu memberi pemasukan kepada negara mencapai Rp140 trilyun per tahun) tentu saja mengundang minat perusahaan asing untuk ikut bersaing. Sayangnya, seperti pendahulunya, sebuah perusahaan bernama VOC, perusahaan-perusahaan asing itu masuk bersaing dengan cara-cara yang kotor. Jika dahulu VOC menggunakan kekerasan bersenjata untuk memonopoli cengkeh dan tembakau, perusahaan-perusahaan asing yang bersaing di pasar rokok dalam negeri menggunakan cara-cara kotor dalam persaingan dalam bentuk kampanye-kampanye buruk perihal kretek dan memaksakan aturan-aturan yang berusaha membunuh kretek.<\/p>\n\n\n\n Lewat dalih kesehatan, mereka mengampanyekan bahwa kretek itu buruk bagi kesehatan. Lewat regulasi, salah satunya dibuatlah regulasi FCTC yang salah satu poinnya mewajibkan penghilangan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok. Tentu saja ini adalah upaya nyata membunuh produk kretek yang memang mengharuskan keberadaan cengkeh dalam kandungan sebatang rokok.<\/p>\n\n\n\n Sejarah mencatat, karena rempah-rempah dan tembakau, dan karena kretek, upaya menjajah negeri ini semakin menggila dan terus menguat hingga akhirnya Indonesia merdeka. Sejarah juga mencatat, lewat rempah-rempah, tembakau, dan produk kretek, para pejuang kemerdekaan negeri ini menjadikannya simbol sekaligus salah satu sumber pendanaan untuk melakukan perlawanan. <\/p>\n\n\n\n Kini, produk kretek yang sudah menjadi kebudayaan di negeri ini hendak kembali diganggu keberadaannya, bahkan hendak dihilangkan. Tidak bisa tidak, sebagai pencinta kretek dan sebagai warga negara Indonesia yang kretek menjadi salah satu kebudayaan di dalamnya, kita harus melawan semua upaya menghancurkan produk kretek. Menang atau kalah, perkara belakangan, yang penting kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meminjam perkataan Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang juga menggunakan kretek sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah Soekarno, Rezim Orba, yang silih berganti memenjarakannya. Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau. Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia. Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007] Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri. Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu. Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000). Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik. Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia. *Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek Tidak Sekadar Rokok, Kretek Simbol Nasionalisme Melawan Penjajah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-tidak-sekadar-rokok-kretek-simbol-nasionalisme-melawan-penjajah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-25 11:39:23","post_modified_gmt":"2019-03-25 04:39:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5571","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5569,"post_author":"878","post_date":"2019-03-24 12:33:41","post_date_gmt":"2019-03-24 05:33:41","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mempertahankan-tradisi-dan-kebudayaan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-24 12:33:48","post_modified_gmt":"2019-03-24 05:33:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5569","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nKretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};